“Sepeda?”, jawab ibu ragu. “Maaf
ya Hasan. Ibu belum punya uang untuk beli sepeda. Untuk makan saja kita masih susah,
apalagi untuk beli sepeda.”, jawab ibu lagi dengan menyesal.
“Oh ya sudah nggak apa-apa
kok, bu. Mungkin lain kali kita bisa dapat rejeki, jadi Hasan bisa beli
sepeda.”, Ujar Hasan yang berusaha menutupi kekecewaannya.
Sebenarnya Hasan sangat kecewa
mendengar jawaban ibunya. Sudah sejak lama ia mengiginkan sepeda. Tetapi, semenjak
ayahnya meninggal, keadaan ekonomi keluarganya memburuk.
“Ya
sudahlah, bisa sekolah saja aku sudah senang kok. Nggak apa-apa deh walau harus
jalan kaki ke sekolah.”, kata Hasan dalam hati sambil menghibur diri.
Suatu hari, Hasan berjalan
pulang sekolah seperti biasa. Tetapi di tengah jalan ia melihat sebuah pameran
sepeda bekas yang menarik perhatiannya. Ia pun memutuskan untuk melihat pameran
itu. Hasan tertarik pada sebuah sepeda biru tua yang sederhana tapi menurutnya cukup
bagus.
“Seandainya aku punya sepeda
kaya gini.”, kata Hasan sambil melamun.
“San, ngapain kamu disini.”,
Kaget Dandi, teman Hasan.
“Eh, kamu to Dan, ngagetin aja. Nggak apa-apa, aku
cuma lagi lihat-lihat sepeda.”, jawab Hasan
“Kok cuma lihat? Kenapa
nggak beli San? Memang kamu nggak capek apa pulang-pergi sekolah jalan kaki.
Rumahmu kan jauh banget, San.”, kata Dandi.
“Pinginnya, Dan. Siapa sih
yang nggak mau punya sepeda. Tapi uang dari mana. Kamu kan tahu keadaan
keluargaku.”, ujar Hasan sedih.
“Maaf ya, San. Aku nggak bermaksud
buat kamu sedih” Kata Dandi ikut menyesal.
“Eh, gimana kalau kamu nyari
kerja aja.”, Dandi mencoba memberi ide.
“Kerja apa?”, Tanya Hasan.
“Gini, tetanggaku sedang butuh
pegawai untuk menjaga tokonya, Cuma jaga toko, kok. Kalau mau, kamu bisa kerja sepulang
sekolah. Lumayan kan uangnya bisa ditabung untuk beli sepeda”, jelas Dandi.
“Bener,
Dan? Aku mau.”, Ujar Hasan senang.
Hasan
pun mulai bekerja dengan penuh semangat. Namun, ia juga tidak lupa untuk
belajar. Hasan tetap ingat tanggungjawabnya sebagai pelajar. Di sela-sela waktu
senggang, Hasan belajar agar nilainya tetap dapat membanggakan.
Tanpa
terasa, tabungan Hasan sudah cukup untuk membeli sepeda impiannya itu. Ia pun
memutuskan untuk segera membeli sepeda
tersebut sebelum sepeda itu dibeli orang lain. Hasan berangkat sepagi mungkin karena
hari itu adalah hari terakhir pameran.
Namun
di tengah perjalanannya, Hasan bertemu dengan seorang kakek yang sepertinya sedang
kesakitan.
“Nak,
tolong antarkan saya ke rumah sakit.”, pinta si kakek
Hasan
merasa sangat bingung, ia takut jika tidak segera ke pameran, ia akan terlambat
untuk membeli sepedanya Namun, jika kakek tidak segera ditolong Hasan takut
akan terjadi apa-apa dengan kakek itu.
“Duh,
gimana nih. Kalau aku terlambat, bagaimana kalau sepeda itu sudah dibeli orang.
Tapi, aku juga tidak mungkin membiarkan kakek ini. Haduh, kalau nanti aku
disuruh membayar biaya rumah sakitnya juga gimana ya. Uangku kan untuk beli
sepeda”, timbang Hasan dalam hati.
Namun,
dengan hati ikhlas, Hasan memutuskan untuk membawa sang kakek ke rumah sakit. Tepat
sesampainya di rumah sakit, sang kakek pingsan, dan benar, karena tidak ada
orang lain selain Hasan, Hasanlah yang diminta untuk membayar biaya administrasi
rumah sakit.
Sebenarnya,
Hasan bisa saja meninggalkan kakek itu. Namun, Hasan justru merelakan semua
uangnya untuk membayar perawatan kakek dan melupakan niatnya untuk membeli
sepeda.
Sepulangnya
dari rumah sakit, Hasan melihat sejenak ke pameran sepeda. Pameran telah tutup,
dan sepeda impian Hasan pun telah terjual. Dengan sedih Hasan mencoba menghibur
dirinya sendiri.
“Sudahlah,
mungkin sepeda itu memang bukan buatku.”
Beberapa
hari kemudian.
Hasan
pulang sekolah seperti biasa. Namun Hasan sangat terkejut karena di depan
rumahnya telah berdiri kakek yang ditolongnya.
“Kek,
kakek kok bisa kemari?”, Tanya Hasan bingung
“Kakek
kemari ingin berterimakasih, nak. Kamu telah menolong kakek. Saat itu, kakek
sedang berolahraga, Tapi tidak disangka, penyakit asma kakek kumat.”, jelas kakek.
Ternyata,
kakek itu adalah seorang jutawan. Kakek itu pun memberikan sebuah kado yang
bahkan tidak pernah dibayangkan oleh Hasan. Sebuah sepeda dengan model terbaru.
“Terimakasih
banyak, kek”, ujar Hasan senang
“Keihlasanmulah
yang telah membantumu mendapat yang kau inginkan.”, jawab kakek.
“Ibumu
pasti bangga padamu”. Kata kakek bangga.
Hasan
memang tidak mendapatkan sepeda yang diidam-idamkannya selama ini, tetapi Hasan
mendapatkan hadiah yang jauh lebih dari yang dia bayangkan karena keikhlasan
hati yang dimilikinya. Mulai saat ini pun Hasan berjanji untuk tidak pernah
ragu lagi dalam menolong sesama.
0 komentar:
Posting Komentar