Jumat, 21 Februari 2014

Sepeda Impian Hasan

                    “Ibu, Hasan boleh minta sepeda tidak?”, ujar Hasan kepada Ibunya yang nampak sibuk mencuci pakaian yang bertumpuk banyaknya.
“Sepeda?”, jawab ibu ragu. “Maaf ya Hasan. Ibu belum punya uang untuk beli sepeda. Untuk makan saja kita masih susah, apalagi untuk beli sepeda.”, jawab ibu lagi dengan menyesal.
“Oh ya sudah nggak apa-apa kok, bu. Mungkin lain kali kita bisa dapat rejeki, jadi Hasan bisa beli sepeda.”, Ujar Hasan yang berusaha menutupi kekecewaannya.
Sebenarnya Hasan sangat kecewa mendengar jawaban ibunya. Sudah sejak lama ia mengiginkan sepeda. Tetapi, semenjak ayahnya meninggal, keadaan ekonomi keluarganya memburuk.
                        “Ya sudahlah, bisa sekolah saja aku sudah senang kok. Nggak apa-apa deh walau harus jalan kaki ke sekolah.”, kata Hasan dalam hati sambil menghibur diri.
Suatu hari, Hasan berjalan pulang sekolah seperti biasa. Tetapi di tengah jalan ia melihat sebuah pameran sepeda bekas yang menarik perhatiannya. Ia pun memutuskan untuk melihat pameran itu. Hasan tertarik pada sebuah sepeda biru tua yang sederhana tapi menurutnya cukup bagus.
“Seandainya aku punya sepeda kaya gini.”, kata Hasan sambil melamun.
“San, ngapain kamu disini.”, Kaget Dandi, teman Hasan.
“Eh, kamu to Dan, ngagetin aja. Nggak apa-apa, aku cuma lagi lihat-lihat sepeda.”, jawab Hasan
“Kok cuma lihat? Kenapa nggak beli San? Memang kamu nggak capek apa pulang-pergi sekolah jalan kaki. Rumahmu kan jauh banget, San.”, kata Dandi.
“Pinginnya, Dan. Siapa sih yang nggak mau punya sepeda. Tapi uang dari mana. Kamu kan tahu keadaan keluargaku.”, ujar Hasan sedih.
“Maaf ya, San. Aku nggak bermaksud buat kamu sedih” Kata Dandi ikut menyesal.
“Eh, gimana kalau kamu nyari kerja aja.”, Dandi mencoba memberi ide.
“Kerja apa?”, Tanya Hasan.
“Gini, tetanggaku sedang butuh pegawai untuk menjaga tokonya, Cuma jaga toko, kok. Kalau mau, kamu bisa kerja sepulang sekolah. Lumayan kan uangnya bisa ditabung untuk beli sepeda”, jelas Dandi.
“Bener, Dan? Aku mau.”, Ujar Hasan senang.
Hasan pun mulai bekerja dengan penuh semangat. Namun, ia juga tidak lupa untuk belajar. Hasan tetap ingat tanggungjawabnya sebagai pelajar. Di sela-sela waktu senggang, Hasan belajar agar nilainya tetap dapat membanggakan.
Tanpa terasa, tabungan Hasan sudah cukup untuk membeli sepeda impiannya itu. Ia pun memutuskan  untuk segera membeli sepeda tersebut sebelum sepeda itu dibeli orang lain. Hasan berangkat sepagi mungkin karena hari itu adalah hari terakhir pameran.
Namun di tengah perjalanannya, Hasan bertemu dengan seorang kakek yang sepertinya sedang kesakitan.
“Nak, tolong antarkan saya ke rumah sakit.”, pinta si kakek
Hasan merasa sangat bingung, ia takut jika tidak segera ke pameran, ia akan terlambat untuk membeli sepedanya Namun, jika kakek tidak segera ditolong Hasan takut akan terjadi apa-apa dengan kakek itu.
“Duh, gimana nih. Kalau aku terlambat, bagaimana kalau sepeda itu sudah dibeli orang. Tapi, aku juga tidak mungkin membiarkan kakek ini. Haduh, kalau nanti aku disuruh membayar biaya rumah sakitnya juga gimana ya. Uangku kan untuk beli sepeda”, timbang Hasan dalam hati.
Namun, dengan hati ikhlas, Hasan memutuskan untuk membawa sang kakek ke rumah sakit. Tepat sesampainya di rumah sakit, sang kakek pingsan, dan benar, karena tidak ada orang lain selain Hasan, Hasanlah yang diminta untuk membayar biaya administrasi rumah sakit.
Sebenarnya, Hasan bisa saja meninggalkan kakek itu. Namun, Hasan justru merelakan semua uangnya untuk membayar perawatan kakek dan melupakan niatnya untuk membeli sepeda.
Sepulangnya dari rumah sakit, Hasan melihat sejenak ke pameran sepeda. Pameran telah tutup, dan sepeda impian Hasan pun telah terjual. Dengan sedih Hasan mencoba menghibur dirinya sendiri.
“Sudahlah, mungkin sepeda itu memang bukan buatku.”

Beberapa hari kemudian.
Hasan pulang sekolah seperti biasa. Namun Hasan sangat terkejut karena di depan rumahnya telah berdiri kakek yang ditolongnya.
“Kek, kakek kok bisa kemari?”, Tanya Hasan bingung
“Kakek kemari ingin berterimakasih, nak. Kamu telah menolong kakek. Saat itu, kakek sedang berolahraga, Tapi tidak disangka, penyakit asma kakek kumat.”, jelas kakek.
Ternyata, kakek itu adalah seorang jutawan. Kakek itu pun memberikan sebuah kado yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh Hasan. Sebuah sepeda dengan model terbaru.
“Terimakasih banyak, kek”, ujar Hasan senang
“Keihlasanmulah yang telah membantumu mendapat yang kau inginkan.”, jawab kakek.
“Ibumu pasti bangga padamu”. Kata kakek bangga.
Hasan memang tidak mendapatkan sepeda yang diidam-idamkannya selama ini, tetapi Hasan mendapatkan hadiah yang jauh lebih dari yang dia bayangkan karena keikhlasan hati yang dimilikinya. Mulai saat ini pun Hasan berjanji untuk tidak pernah ragu lagi dalam menolong sesama.




 Cerpen masa kecil nih. Target pembacanya sebenernya anak-anak sih, tapi Semoga suka ya :)





0 komentar:

Posting Komentar

 

Follow Your Dream Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template