Pada zaman dahulu kala, konon terdapat sebuah kampung yang
terletak di pinggiran daerah Kalimantan Tengah. Kampung tersebut sangatlah
sejuk, indah, asri dan damai. Letaknya ada di tengah daerah hutan yang luas nan
hijau dan sungai yang sangat indah. Kebanyakan penduduk di kampung ini
bermata pencaharian dengan berladang. Semua penduduk di kampung ini sangat
ramah. Mereka selalu saling menyapa ketika bertemu sapa satu sama lainnya.
Disana, hiduplah seorang laki-laki bernama Uder. Ia tinggal
bersama dengan istrinya di sebuah gubug kecil yang hanya beratapkan tumpukan
jerami. Sebenarnya Uder merupakan orang yang sangat cerdas, hanya saja ia
sangat malas sehingga kecerdasannya tidak pernah nampak terlihat. Setiap hari,
Uder hanya suka bermalas-malasan dan tidur di teras gubugnya sehingga ia tidak
pernah meninggalkan tempat tinggalnya. Uder hanya akan pergi keluar rumah untuk
memancing saja. Bahkan, demi memancing dia rela untuk berhari-hari tidak pulang
ke rumah.
Pria tersebut hanya akan pulang ketika merasa lapar saja. Hal
itu dilakukannya karena Uder sangat menyukai kegiatan tersebut. Ia selalu
membanggakan hasil pancingannya walau itu hanya berupa seekor ikan kecil yang
berhasil ditangkapkan setelah berhari-hari memancing.
Di suatu siang, Uder terbangun dengan perut lapar. Ia pun memanggil istrinya untuk mencari makanan.
Di suatu siang, Uder terbangun dengan perut lapar. Ia pun memanggil istrinya untuk mencari makanan.
“Istriku, aku lapar. Tolong ambilkan aku makanan”, pintanya.
“Suamiku, kita tak punya persediaan makanan sedikitpun karena
kau tak bekerja”, ujar istri Uder.
“Tapi tanpa makanan, aku tidak punya tenaga untuk bekerja”,
ujar Uder lagi tak mau kalah.
Lalu istrinya kembali ke dalam untuk menuju ke dapur dan keluar
dengan membawa segelas susu.
“Minumlah susu ini. Hanya ini yang kita punya. Setidaknya ini
bisa menambahkan energi. Setelah itu, pergi bekerjalah suamiku dan bawakan
makanan untuk kita nanti malam”, kata istrinya dengan bijak.
Uder hanya dapat menggerutu dalam hati.
“Mana kenyang hanya dengan susu saja?”, keluhnya kesal.
Namun ia tidak mengungkapkan hal tersebut kepada istrinya
karena tidak ingin membuat istrinya menjadi marah.
Saat ia akan meminum susu tersebut, tiba-tiba saja ada
seorang nenek yang datang kepadanya dan hendak menawarinya seekor ayam kecil.
“Nak, maukah kamu membeli ayam ini?” pinta si nenek
“Wah, maaf nek aku tidak mempunyai uang untuk membeli ayam
itu”, balas Uder dengan jujur.
“Sayang sekali. Sebenarnya aku juga tak ingin menjual ayam
ini. Ayam ini adalah ayam kesayanganku. Ia berbeda dari ayam yang lain. Tetapi
aku membutuhkan uang agar bisa membeli susu untuk cucuku”, jelas si nenek
dengan sedih.
Tiba-tiba uder pun memiliki ide cemerlang.
“Sebentar nek, tadi nenek bilang uang itu untuk membeli susu
cucu nenek”, tanya Uder.
“Iya, Nak. Kenapa memangnya?”, jawab nenek seraya kembali
bertanya.
“Nek, bagaimana kalau kita barter saja?”
“Barter?”
“Iya nek, kita barter saja. Maksudnya bertukar barang yang
kita punya sebagai pengganti uang. Nenek kan mempunyai ayam itu sedangkan aku
memiliki susu segar ini. Jadi mari kita tukar saja. Aku dapat ayam dan nenek
bisa dapat susu segar untuk cucu nenek”, ujar Uder.
Sejenak nenek berpikir dan kemudian sang nenek pun menyetujui
penawaran dari Uder.
Setelah melakukan pertukaran, si nenek pun berpamitan pada
Uder untuk segera memberikan susu tersebut pada cucunya. Namun tiba-tiba saja
nenek tersebut menghilang setelah beberapa langkah menjaui Uder. Awalnya, Uder
agak bingung ketika nenek itu tiba-tiba saja tidak terlihat. Akan tetapi,
karena ia malas untuk berpikir hal-hal yang berat, ia pun membiarkannya saja.
“ah paling salah lihat”, batinnya dalam hati.
Kini, Uder memiliki ayam dari si nenek. Namun, beberapa detik kemudian ia memandangi ayamnya dengan bingung dan ragu.
Kini, Uder memiliki ayam dari si nenek. Namun, beberapa detik kemudian ia memandangi ayamnya dengan bingung dan ragu.
“Wah, apa ya yang harus aku lakukan dengan ayam ini? Apa aku
goreng saja ya. Kan lumayan bisa mengenyangkan untuk siang ini”, pikir Uder.
Saat Uder akan menyembelih ayamnya, tiba-tiba secara ajaib
ayam tersebut bertelur dengan cepatnya. Uder pun sangat kaget melihatnya. Ia
pun pergi menuju ke dapur dan mengambil wadah untuk telurnya. Namun,
sekembalinya ia, Uder semakin kaget lagi melihat telurnya justru bertambah
banyak. Ia pun melihat perkembangan ayam itu. Uder pun mengurungkan niatnya
untuk memasak ayam tersebut dan menunggu ayam itu untuk kembali bertelur.
Ternyata, setiap 5 menit ayam tersebut bertelur sebanyak 2 buah.
“Wah, ini ayam ajaib. Kalau bertelur sebanyak ini aku pasti
bisa jadi kaya. Lebih baik aku tunggu saja ayamnya sampai selesai bertelur dan
kemudian aku jual telur-telurnya”, ujarnya penuh semangat.
Sambil menunggu ayamnya bertelur, ia pun mulai membayangkan
apa saja yang akan ia lakukan jika telur-telur ayamnya laku dijual.
“Aku bisa kaya. Kalau dalam waktu 5 menit saja ayam itu
bertelur 2 biji, dalam waktu 1 jam saja aku bisa mendapat 24 telur. Kalau 1
hari aku bisa mendapat 576 buah. Apalagi 1 bulan, aku bisa kaya tanpa perlu
susah payah. Ha.ha.ha”, bayang Uder dengan puas.
Ia tak henti-hentinya membayangkan bahwa ia akan membeli
banyak barang, mulai dari makanan, baju hingga rencana untuk pindah rumah dan
berjalan-jalan. Semua hal tersebut akan ia lakukan ketika Uder berhasil menjual
telur-telurnya.
Akan tetapi, tanpa ia sadari ternyata ayamnya telah berhenti
bertelur dengan sendirinya setelah 3 jam bertelur tanpa henti. Uder pun sangat
keheranan dengan ayamnya.
“Sepertinya ayam ini lelah. Mungkin aku harus mengistirahatkannya
sebentar”, pikirnya.
Uder pun menunggu selama 2 jam, namun setelah lama menunggu,
ayam tersebut tetap tidak kunjung bertelur.
“Hei ayam, cepatlah bertelur, kalau tidak darimana aku bisa
mendapat uang”, ujar si
Uder mulai kesal. Karena tidak sabar, ia pun mencoba untuk
mengangkat ayam tersebut dengan tangannya untuk melihat apakah ia sudah bisa bertelur atau belum.
mengangkat ayam tersebut dengan tangannya untuk melihat apakah ia sudah bisa bertelur atau belum.
Tetapi bukannya bertelur, ayam tersebut malah melompat dan
berlari-lari. Selama 1 jam, Uder pun sibuk menangkap ayam tersebut. Uder pun
merasa bahwa ia malas merawat ayam yang suka berlarian kemana-mana, ia pun
memutuskan melepaskan ayam itu saja tanpa berpikir panjang.
“Lebih baik aku pelihara hewan yang lain saja. Ayam ini
menyusahkan”, ujarnya dalam hati dan kemudian ia pun melepaskan ayam tersebut
dan membiarkannya bebas.
Uder memang sudah tidak memiliki ayam lagi, akan tetapi ia masih memiliki beberapa telur yang dihasilkan ayam ajaib tadi selama 3 jam. Kemudian, sebagian telur tersebut pun ia berikan kepada istrinya untuk lauk makan mereka beberapa hari ke depan dan sebagian lagi hendak ia jual ke pasar. Setelah makan siang, Uder pun memutuskan untuk pergi memancing agar suasana hatinya kembali membaik setelah selama satu jam berkejaran dengan ayamnya.
Uder memang sudah tidak memiliki ayam lagi, akan tetapi ia masih memiliki beberapa telur yang dihasilkan ayam ajaib tadi selama 3 jam. Kemudian, sebagian telur tersebut pun ia berikan kepada istrinya untuk lauk makan mereka beberapa hari ke depan dan sebagian lagi hendak ia jual ke pasar. Setelah makan siang, Uder pun memutuskan untuk pergi memancing agar suasana hatinya kembali membaik setelah selama satu jam berkejaran dengan ayamnya.
Di tengah perjalanan menuju sungai, dari kejauhan Uder
melihat seorang kakek yang menjual kambingnya sepasang, seekor jantan dan
seekor lagi betina. Seketika, Uder pun mendapat ide kembali.
“Baiklah. Lebih baik aku membeli kambing saja. Aku akan
berternak kambing saja. Berternak kambing akan lebih mudah”, serunya.
Ia pun segera untuk mendekati kakek dan berniat untuk membeli
kambing tersebut.
“Selamat siang Kek”, ujarnya
“Selamat siang Kek”, ujarnya
“Selamat siang, Nak. Apa kau ingin membeli kambing?”, tanya
kakek.
“Iya kek, kira-kira harganya berapa Kek?”, tanya Uder lagi
membalas pertanyaan kakek.
“Tidak mahal kok, Nak”, kambing ini kakek tidak jual mahal
karena memang kambing ini masih sangat kecil. Kakek hanya ingin membeli telur
untuk lauk makan kakek dan cucu kakek”, jelas sang kakek.
Uder pun hendak membeli kambing tersebut, akan tetapi ia
menyadari bahwa ia tidak memiliki uang karena ia belum menjual telurnya ke
pasar. Ketika ia akan menjual telurnya ke pasar, tiba-tiba rasa malasnya muncul
kembali.
Ia merasa malas untuk pergi ke pasar dan menjual telurnya.
Disaat itu, ide cemerlangnya kembali muncul.
“Kakek, bagaimana kalau kita barter saja?”, ujar Uder.
“Apa maksudnya dengan barter, Nak”, tanya kakek lagi.
“Jadi, barter itu merupakan suatu sistem jual beli dengan
barang. Dengan barter kita tidak perlu menggunakan uang sebagai alat
pembayaran. Cukup dengan barang yang kita punya saja. Sehingga kalau kakek
setuju, saya ingin menukarkan telur ini dengan kambing kakek. Kakek kan
membutuhkan telur, sedangkan saya menginginkan kambing. Bagaimana kalau kita bertukar
saja”, tawar Uder pada kakek.
Kakek pun menyetujui tawaran dari Uder. Setelah melakukan
pertukaran, kakek pun berpamitan untuk segera pulang ke rumah. Namun, sama
seperti nenek penjual ayam, tiba-tiba saja kakek itu menghilang setelah
beberapa langkah menjauhi Uder. Sebenarnya, Uder agak bingung ketika kakek itu
tiba-tiba saja tidak terlihat. Akan tetapi, karena ia malas untuk berpikir
hal-hal yang berat, lagi-lagi, ia pun membiarkannya saja. Selalu seperti itu.
Uder pun tidak jadi pergi memancing. Ia pun pulang dengan membawa kambing-kambing itu dengan hati yang bingung.
Uder pun tidak jadi pergi memancing. Ia pun pulang dengan membawa kambing-kambing itu dengan hati yang bingung.
“Lalu, harus kuapakan kambing-kambing ini? Andai mereka juga
ajaib seperti ayamku dulu”, ujar Uder berharap.
Namun, seperti sebuah doa yang terkabul, tiba-tiba secara
ajaib kambing-kambing itu menjadi besar dengan cepat. Uder pun sangat kaget
melihatnya. Ia pun berteriak sambal berlari menuju dapur untuk memanggil
istrinya.
“Istriku. Istriku dimana kau?”, Panggil Uder dengan
tergopoh-gopoh menuju dapur.
“Ada apa, Bang sampai kau harus teriak-teriak begitu?”, jawab
istrinya seolah cemas melihat sikap Uder.
“Ikutlah aku ke depan dan lihatlah sendiri. Kau akan
terkejut”, ajak Uder.
Uder dan istrinya pun menuju ke halaman depan bersama. Alangkah terkejutnya Uder dan sang istri melihat kambing itu sudah ada 20 ekor. Ternyata selama Uder pergi ke dapur memanggil istrinya ternyata kambing itu beranak sangat banyak.
Uder dan istrinya pun menuju ke halaman depan bersama. Alangkah terkejutnya Uder dan sang istri melihat kambing itu sudah ada 20 ekor. Ternyata selama Uder pergi ke dapur memanggil istrinya ternyata kambing itu beranak sangat banyak.
Istri Uder tentu sangat terkejut dengan kejadian itu lalu
meminta penjelasan tentang hal tersebut. Uder pun menjelaskan kejadian yang
dialaminya mulai saat bertemu dengan nenek yang memberinya ayam ajaib hingga
kakek yang menjual kambing menakjubkan tersebut padanya. Ia pun juga bercerita
bahwa sebelum mendapat ayam itu, ia telah menjual ayamnya karena tidak mau
bertelur lagi.
Setelah mendengarkan penjelasan Uder dengan seksama, kemudian
secara bijaksana istri Uder memberikan saran pada suaminya untuk memelihara
kambing tersebut dan menjadi seorang peternak.
“Bang, aku rasa ini adalah sebuah rejeki dari Yang Maha
Kuasa. Sebuah jalan agar abang bisa mempunyai modal untuk bekerja. Kalau nanti
kambing ini tidak bertambah banyak lagi, jangan lah kau jual kambing-kambing
ini seperti kau jual ayam-ayam itu hanya karena tidak bisa bertelur lagi.
Dengan 20 kambing saja, kita sudah bisa jadi peternak kambing. Kau harus sabar
untuk merawat kambing-kambing ini. Tidak ada pekerjaan yang mudah. Kau harus
rajin dan berusaha.
Ternyata benar, beberapa menit kemudian, kambing-kambing itu
tidak lagi bertambah besar ataupun bertambah banyak. Namun, atas saran yang
diberikan istrinya, Uder tidak menjual kambing itu. Ia pun mencoba untuk
merawatnya selayaknya seorang peternak kambing. Selama seminggu Uder pun
mencoba menjadi seorang peternak yang rajin.
Sayangnya, masalah justru dimulai setelah seminggu kemudian. Kambing-kambing yang dimiliki Uder sangat banyak mengeluarkan kotoran. Tentu saja Uder sangat tidak suka dengan hal tersebut. Bahkan ia sangat malas untuk membersihkan kotoran-kotoran kambing itu sehingga semakin bertambah banyak setiap harinya dan menimbulkan bau yang tidak sedap di sekitar halamannya.
Sayangnya, masalah justru dimulai setelah seminggu kemudian. Kambing-kambing yang dimiliki Uder sangat banyak mengeluarkan kotoran. Tentu saja Uder sangat tidak suka dengan hal tersebut. Bahkan ia sangat malas untuk membersihkan kotoran-kotoran kambing itu sehingga semakin bertambah banyak setiap harinya dan menimbulkan bau yang tidak sedap di sekitar halamannya.
“Ah, sudah cukup. Aku tak tahan lagi. Lebih baik aku jual
saja kambing-kambing ini sebelum seluruh tempat ini bertambah bau”, ujar Uder
marah.
Istrinya yang mendengar hal itu tentu tidak setuju dan mencoba memberi saran kepadanya, namun sayangnya hal itu tidak dapat merubah keputusan Uder.
“Bang, kalau setiap kali mendapat pekerjaan kau selalu bersikap seperti ini, kau tidak akan pernah bisa mendapat pekerjaan tetap seumur hidupmu. Di dunia ini, tidak adak ada kesuksesan yang kau dapat raih dengan mudah. Kau harus berusaha untuk mendapatkannya. Masa hanya gara-gara kotoran saja kau menyerah, Bang”, kata istrinya.
Istrinya yang mendengar hal itu tentu tidak setuju dan mencoba memberi saran kepadanya, namun sayangnya hal itu tidak dapat merubah keputusan Uder.
“Bang, kalau setiap kali mendapat pekerjaan kau selalu bersikap seperti ini, kau tidak akan pernah bisa mendapat pekerjaan tetap seumur hidupmu. Di dunia ini, tidak adak ada kesuksesan yang kau dapat raih dengan mudah. Kau harus berusaha untuk mendapatkannya. Masa hanya gara-gara kotoran saja kau menyerah, Bang”, kata istrinya.
“Tapi aku tidak tahan istriku. Kau ingin melihatku menderita
karena setiap hari harus mencium bau tidak enak seperti ini setiap hari.
Sudahlah, aku akan jual saja kambing-kambing ini dan uangnya akan aku belikan
hewan lain yang lebih baik.”, bantah Uder.
Tanpa mendengarkan saran dari istrinya, Uder pun beranjak keluar gubug untuk mencari pembeli dari kambing-kambingnya. Tanpa harus menunggu lama, kambing-kambing Uder pun segera terjual. Uangnya pun ia putuskan untuk membeli hewan lain yang menurutnya akan lebih banyak menghasilkan keuntungan.
Tanpa mendengarkan saran dari istrinya, Uder pun beranjak keluar gubug untuk mencari pembeli dari kambing-kambingnya. Tanpa harus menunggu lama, kambing-kambing Uder pun segera terjual. Uangnya pun ia putuskan untuk membeli hewan lain yang menurutnya akan lebih banyak menghasilkan keuntungan.
“Heeeem, kira-kira aku harus membeli hewan apa ya?”, pikir
Uder.
Di tengah perjalanan, ia melihat 2 ekor sapi yang sepertinya akan dijual oleh pemiliknya. Untuk memastikan hal tersebut, ia pun menanyakannya pada seorang pemuda yang membawa sapi tersebut.
Di tengah perjalanan, ia melihat 2 ekor sapi yang sepertinya akan dijual oleh pemiliknya. Untuk memastikan hal tersebut, ia pun menanyakannya pada seorang pemuda yang membawa sapi tersebut.
“Hei kau, apa sapi-sapi ini dijual?” tanya Uder. ‘
“Benar sekali. Aku memang berniat menjual sapi-sapi ini”,
kata pemuda itu sembari menyebutkan harga sapinya. Namun sayangnya harga
sapi-sapi itu sangat mahal, seharga semua uang yang ia bawa.
“mahal sekali!” protes Uder.
“Sapi ini kualitasnya sangat baik. Kalau kita merawat sapi
dengan baik, maka rasa dagingnya pun akan enak dan sapi ini akan semakin besar.
Karena itu harganya sangat mahal”, jelas pemuda itu.
Uder pun berpikir sejenak dan menimbang-nimbang keputusannya
apakah ia akan membeli sapi itu atau tidak.
“Heeem, kalau aku merawat sapi ini dengan lebih baik lagi,
aku bisa menjualnya dengan harga yang lebih mahal. Lagipula, sapi tidak akan
membuat banyak kotoran seperti kambing. Siapa tahu sapi-sapi ini pun ajaib
seperti hewan-hewan yang kubeli sebelumnya. Aku bisa menjadi peternak yang kaya
raya tanpa harus repot lagi”, pikir Uder dalam otaknya.
Akhirnya Uder pun memutuskan untuk membeli kedua sapi tersebut dan mengubah pekerjaannya dari seorang peternak kambing menjadi peternak sapi. Dalam perjalannya pulang Uder terus membayangkan betapa bahagianya jika sapi-sapi itu pun ajaib. Ia berharap sapi-sapi itu dapat segera bertambah banyak sehingga bisa segera dijual dan menghasilkan banyak uang.
Akhirnya Uder pun memutuskan untuk membeli kedua sapi tersebut dan mengubah pekerjaannya dari seorang peternak kambing menjadi peternak sapi. Dalam perjalannya pulang Uder terus membayangkan betapa bahagianya jika sapi-sapi itu pun ajaib. Ia berharap sapi-sapi itu dapat segera bertambah banyak sehingga bisa segera dijual dan menghasilkan banyak uang.
Namun sesampainya di gubugnya, sapi-sapi itu tak kunjung
bertambah banyak. Uder terus menunggu tetapi tetap tidak kunjung tidak ada
perubahan. Satu jam berlalu dan Uder tetap menunggu. Sang istri pun gelisah
melihat tingkah Uder yang terus berharap tanpa berusaha seperti itu.
“Sudahlah Bang. Jangan terus menunggu. Siapa tahu itu memang
cuma sapi biasa. Tidak baik seperti itu. Kita sudah punya sapi. Kau harusnya
bersyukur. Bekerjalah selayaknya seorang peternak sapi. Lebih baik kau rawat
saja sapi-sapi
itu hingga dia mempunyai kualitas yang baik dan beranak dengan sendirinya”, nasihat istrinya.
Uder hanya menggerutu. Ia benar-benar tidak sabar melihat sapi-sapi itu bertambah banyak.
itu hingga dia mempunyai kualitas yang baik dan beranak dengan sendirinya”, nasihat istrinya.
Uder hanya menggerutu. Ia benar-benar tidak sabar melihat sapi-sapi itu bertambah banyak.
Namun ia juga malas untuk melakukan apa yang dinasihatkan
istrinya. Ia ongin semua berjalan dengan mudah dalam waktu yang cepat tanpa
harus merepotkannya seperti itu. Ya, Uder kembali menunjukkan sifat
kemalasannya yang buruk.
Rasa tidak sabar dan malasnya membuatnya untuk berpikir hal
lain hingga akhirnya ia menemukan ide yang baru.
“Ahh, lebih baik aku perah saja sapi-sapi ini. Susunya akan
aku jual. Sapi segemuk ini pasti akan menghasilkan banyak susu dengan kualitas
yang baik. Tentunya ini akan cepat membuatku untuk. Memerah sapi kan bukan hal
yang susah”, ujarnya memekik setelah menemukan ide barunya itu.
Dengan sigap, tanpa berpikir panjang lagi Uder pun mencoba
memerah susu dari sapi-sapi itu. Namun ternyata memerah susu tidaklah semudah
yang ia bayangkan. Susu yang keluar sangatlah sedikit sekali. Tidak sebanding
dengan badan sapi yang kelihatan sangat gemuk itu.
“Kok susah sekali”, keluh Uder terus-menerus.
Uder yang sangat tidak sabar menanti ember itu segera penuh memerah dengan sangat keras. Dalam pikirannya, jika ia memerah lebih keras, maka ember susu pun akan segera penuh. Namun sayangnya, sapi itu justru cenderung menjadi tidak nyaman. Seharusnya, Uder memperlakukan sapinya dengan lebih lembut dan merawatnya dengan sabar seperti yang dikatakan pemuda tadi agar menghasilkan kualitas yang baik.
Tiba-tiba saja sapi tersebut menendang Uder dengan keras seolah merasa tidak suka dengan cara Uder merawatnya. Uder pun terlempar ke kubangan air yang ada disekitar halamannya dan seketika tubuhnya seolah menjadi basah.
Uder yang sangat tidak sabar menanti ember itu segera penuh memerah dengan sangat keras. Dalam pikirannya, jika ia memerah lebih keras, maka ember susu pun akan segera penuh. Namun sayangnya, sapi itu justru cenderung menjadi tidak nyaman. Seharusnya, Uder memperlakukan sapinya dengan lebih lembut dan merawatnya dengan sabar seperti yang dikatakan pemuda tadi agar menghasilkan kualitas yang baik.
Tiba-tiba saja sapi tersebut menendang Uder dengan keras seolah merasa tidak suka dengan cara Uder merawatnya. Uder pun terlempar ke kubangan air yang ada disekitar halamannya dan seketika tubuhnya seolah menjadi basah.
Seiring dengan rasa basah dan dingin yang dirasakannya Uder
pun beranjak bangun dengan kaget dari kursi bambu yang ada di halaman gubugnya.
Ternyata dari tadi Uder hanya bermimpi saja. Tidak ada nenek, kakek, pemuda,
hingga sapi yang diternaknya. Satu-satunya yang nyata hanyalah susu yang telah
diberikan oleh istrinya namun kini tumpah memenuhi seluruh badannya. Sepertinya
tanpa sengaja saat tertidur tadi Uder menendang susu yang harusnya menjadi
pengenyang perutnya itu.
Kini ia tidak ada lagi sesuatu untuk dikonsumsi.
Mendengar suara ribut di depan gubug, istri Uder pun keluar untuk melihat keadaan. Ia sangat terkejut melihat ternyata suaminya belum berangkat bekerja dan justru berlumuran susu.
Mendengar suara ribut di depan gubug, istri Uder pun keluar untuk melihat keadaan. Ia sangat terkejut melihat ternyata suaminya belum berangkat bekerja dan justru berlumuran susu.
“Lho, kenapa seperti ini? Pasti kau tadi tidur lagi, Bang”,
tanya istrinya.
Namun Uder tidak menjawab. Sepertinya ia masih belum sadar sepenuhnya dan sedang berusaha untuk mengembalikan kesadarannya setelah bermimpi cukup lama.
Namun Uder tidak menjawab. Sepertinya ia masih belum sadar sepenuhnya dan sedang berusaha untuk mengembalikan kesadarannya setelah bermimpi cukup lama.
“Bang, kenapa sih kau terus bermalas-malasan? Setiap hari
kerjanya hanya tidur saja. Kalaupun keluar rumah pasti hanya pergi untuk
memancing. Itu pun kau juga jarang berhasil memancing ikan. Kalau begini terus,
kau hanya dapat menjadi seorang pemancing mimpi. Pemancing mimpi kosong”, ujar
istrinya marah.
“Bang, memancing, beristirahat bahkan tidur sampai bermimpi
itu boleh. Tapi jangan sampai membuat kita lupa untuk bekerja. Jangan sampai
kita hidup dalam mimpi alam bawah sadar kita. Itu khayalan bukan impian. Kau
tidak akan pernah memiliki kebahagian dan kesuksesan sejati dengan hal seperti
itu. Untuk mewujudkan apa yang kau inginkan, kau harus berusaha, Bang!”,
nasihat istrinya lagi dan beranjak kembali ke dapur.
Uder pun masih tetap diam. Ia tidak ingin membuat istrinya semakin marah. Sang istri pun menyuruhnya untuk keluar rumah mencari pekerjaan dan Uder pun mengiyakan meskipun dengan perasaan enggan.
Uder pun masih tetap diam. Ia tidak ingin membuat istrinya semakin marah. Sang istri pun menyuruhnya untuk keluar rumah mencari pekerjaan dan Uder pun mengiyakan meskipun dengan perasaan enggan.
Sebelum ke berangkat keluar rumah, Uder pun menuju ke dapur
dulu. Ia berusaha untuk mencari makanan. Siapa tahu ada sisa makanan untuk
dapat mengisi perutnya. Di dapur, Uder tidak sengaja melihat istrinya sedang
membersihkan usus ayam.
“Usus ayam siapa itu, istriku?”, tanya Uder.
“Pemberian tetangga, Bang. Aku baru ingat kemarin Bori
memberi kita usus ayam ini.
Beruntunglah kau bang, kita bisa makan siang dengan usus ini
menjadi lauknya”, jawab istrinya seolah bisa membaca pikiran Uder bahwa ia
memang
kelaparan. Uder pun makan dengan sangat lahap. Tiba-tiba Uder pun memikirkan sebuah ide.
kelaparan. Uder pun makan dengan sangat lahap. Tiba-tiba Uder pun memikirkan sebuah ide.
“Usus itu ada banyak, berilah aku sedikit usus itu”, pinta
Uder.
“Untuk apa, Bang?”, tanyanya.
“Nanti kau juga akan tahu. Ini untuk bekerja”, jawab Uder.
“Bekerja? Pekerjaan apa yang membutuhkan usus ayam?” tanya
istrinya heran.
“Sudahlah nanti kau akan tahu. Aku pergi bekerja dulu”, jawab
Uder lagi sambil pergi setelah berpamitan dengan istrinya.
Sebenarnya Uder ingin menggunakan usus itu untuk umpan
memancingnya. Namun ia tidak mengatakan kepada istrinya bahwa ia akan pergi
memancing. Ia tidak ingin istrinya marah lagi.
“Memancing kan juga pekerjaan. Kalau aku bisa memancing
banyak ikan, menjualnya dan mendapatkan banyak uang, istriku tidak akan
marahnya”, gumamnya sendiri dalam perjalanan.
Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan salah seorang teman sekampungnya. Melihat Uder berjalan, teman kampungnya itu bertanya kepadanya.
Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan salah seorang teman sekampungnya. Melihat Uder berjalan, teman kampungnya itu bertanya kepadanya.
“Hendak apa kau, Der?”
“Hendak memancing aku”, jawab Uder singkat.
“Umpannya apa, Der?”, tanya tetangga kampung itu lagi.
“Usus ayam”, jawab Uder lagi-lagi dengan singkat. Sesungguhnya, ia sedang malas untuk berbicara dengan orang lain karena ia lebih berfokus untuk segera sampai ke sungai agar dapat cepat memancing. Ia pun lalu cepat-cepat meninggalkan tetangga kampungnya.
Beberapa langkah setelah melewati perbatasan kampungnya dengan kampung seberang, Uder pun bertemu dengan kawan sebayanya dari kampung itu. Ketika melihat Uder, kawannya itu pun kemudian bertanya.
“Usus ayam”, jawab Uder lagi-lagi dengan singkat. Sesungguhnya, ia sedang malas untuk berbicara dengan orang lain karena ia lebih berfokus untuk segera sampai ke sungai agar dapat cepat memancing. Ia pun lalu cepat-cepat meninggalkan tetangga kampungnya.
Beberapa langkah setelah melewati perbatasan kampungnya dengan kampung seberang, Uder pun bertemu dengan kawan sebayanya dari kampung itu. Ketika melihat Uder, kawannya itu pun kemudian bertanya.
“Hendak apa kau, Der?”
“Hendak memancing aku”, jawab Uder singkat dengan sedikit
menahan emosi.
“Umpannya apa, Der?”, kawannya itu lagi.
“Usus ayam”, jawab Uder lagi-lagi dengan singkat dan
meninggalkan kawannya dengan cepat untuk beranjak ke hilir sungai.
Tidak berapa jauh kemudian, ada seorang kawannya lagi yang
bertemu dengannya dan bertanya pertanyaan yang sama. Uder pun lagi-lagi
menjawab dengan semakin singkat dan perasaan jengkel. Sungguh, ia sangat malas
berbicara dengan orang-orang yang ditemuinya dalam perjalanannya.
Akhirnya ia pun sampai di hilir sungai. Konon, di seberang
sungai tersebut terdapat sekawanan kera yang dapat berbicara dengan manusia.
Namun, tidak banyak orang yang tahu akan hal ini dikarenakan letak posisi
seberang sungai tersebut sangatlah jauh.
Uder yang sangat malas bertemu dengan banyak orang pun memutuskan untuk mendayung perahunya ke arah seberang sungai yang memang jauh dan sepi dari para pemancing. Setelah sampai di dekat seberang, ia pun berhasil untuk memancing dengan tenang di bawah pohon rindang yang menjorok ke sungai.
Namun secara tiba-tiba, ia kembali dikejutkan dengan suara dari seekor kera yang bertanya kepadanya.
Uder yang sangat malas bertemu dengan banyak orang pun memutuskan untuk mendayung perahunya ke arah seberang sungai yang memang jauh dan sepi dari para pemancing. Setelah sampai di dekat seberang, ia pun berhasil untuk memancing dengan tenang di bawah pohon rindang yang menjorok ke sungai.
Namun secara tiba-tiba, ia kembali dikejutkan dengan suara dari seekor kera yang bertanya kepadanya.
“Hendak apa kau?”
“Memancing!”, jawab Uder singkat penuh rasa jengkel.
“Umpannya apa?”, tanya si kera itu lagi.
“Ususmu! Sudah jangan ganggu aku”, ujar Uder tanpa peduli
bahwa yang mengajaknya berbicara adalah seekor kera ajaib. Ia terlalu malas
untuk peduli dengan hal-hal yang dianggap mengganggu kesenangannya.
Mendengar jawaban tersebut, kera itu menjadi sangat marah. Ia
pun memanggil segerombolan kera lainnya dan melompat ke perahu Uder. Uder yang
tak menyangka bahwa kera itu berjumlah sangat banyak itu pun seketika pingsan
tak sadarkan diri karena kaget. Kawanan itu pun membawa paksa Uder dan
mengikatnya pada pohon tempat kera tadi bergelantung. Semalaman ia membiarkan
Uder terikat disana.
Ketika fajar mulai menyingsing Uder pun terbangun. Salah
seekor kera pun mulai bertanya kepadanya.
“Mimpi apa kau semalam?”
“Bagaimana aku bisa bermimpi. Aku hanya bisa bermimpi ketika
tertidur pulas. Disini terlalu banyak nyamuk. Aku tak bisa tidur dengan pulas”,
ujarnya dengan ketus.
Kera-kera itu pun tidak melepaskan Uder sedikitpun karena Uder tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Mereka pun tetap membiarkan Uder terikat bahkan hingga matahari telah bersinar dengan terik di atasnya.
Kera-kera itu pun tidak melepaskan Uder sedikitpun karena Uder tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Mereka pun tetap membiarkan Uder terikat bahkan hingga matahari telah bersinar dengan terik di atasnya.
Uder pun mulai kelelahan. Ia sangat kedinginan dan kehausan
karena semalaman lebih tanpa selimut dan minuman. Melihat Uder yang mulai
lelah, kawanan kera tersebut malah senang dan mengejeknya.
“Itu salah kau sendiri tidak bersikap baik pada kami yang
bertanya baik-baik padamu”, ujar salah seekor kera.
Tetapi Uder semakin berteriak dan kencang meminta untuk
dibebaskan dan diberi makanan serta minuman. Teriakannya yang tak kunjung henti
membuat seekor pemimpin kera-kera itu memberikan makanan dan minuman padanya.
Malam harinya, Uder pun dipindahkan ke halaman rumah mereka. Fajar pun kembali
menyingsing. Salah seorang kera pun kembali bertanya kepadanya.
“Mimpi apa kau semalam?”
“Bagaimana aku bisa bermimpi. Aku masih digigit nyamuk. Aku
tak bisa tidur dengan pulas”, jawabnya sedikit lebih lembut karena tak ingin
kera-kera itu marah lagi.
Akhirnya malam harinya mereka membuat sebuah kelambu dari dedaunan. Malam harinya Uder pun dapat tertidur dengan nyenyak.
Akhirnya malam harinya mereka membuat sebuah kelambu dari dedaunan. Malam harinya Uder pun dapat tertidur dengan nyenyak.
“Nak”, sapa seseorang padanya seraya membangunkannya.
“Uder pun bangun dengan sangat terkejut. Ia pun lebih terkejut lagi ketika ia menyadari bahwa yang membangunkannya adalah kakek dan nenek penjual ayam dan kambing di dalam mimpinya dulu.
“Uder pun bangun dengan sangat terkejut. Ia pun lebih terkejut lagi ketika ia menyadari bahwa yang membangunkannya adalah kakek dan nenek penjual ayam dan kambing di dalam mimpinya dulu.
“Ada apa kakek dan nenek membangunkanku?” tanyanya.
“Bagaimana perasaanmu saat ini, Uder?” tanya nenek itu padanya.
“Aku sungguh lelah, Berhari-hari aku tidak bisa kembali ke gubug. Istriku pasti sudah menunggu di gubug. Aku ingin bebas dari kera-kera itu. Aku tidak mau seperti ini. Jika ini mimpi, aku sangat tidak ingin bermimpi yang seperti ini”, ujarnya.
“Bagaimana perasaanmu saat ini, Uder?” tanya nenek itu padanya.
“Aku sungguh lelah, Berhari-hari aku tidak bisa kembali ke gubug. Istriku pasti sudah menunggu di gubug. Aku ingin bebas dari kera-kera itu. Aku tidak mau seperti ini. Jika ini mimpi, aku sangat tidak ingin bermimpi yang seperti ini”, ujarnya.
“Uder, itu semua adalah karena kemalasanmu. Kau itu
sebenarnya adalah orang yang sangat cerdas. Tapi kau tidak menggunakan
kemampuan dan apa yang kau miliki dengan baik. Padahal kau bisa menggunakan
kemampuanmu itu untuk membantu banyak orang. Warga kampungmu. Tapi kau justru
menyia-nyiakannya dengan bermalas-malasan dan terus berkhayal”, nasihat sang
nenek.
“Aku menyesal nek. Aku tidak mau seperti ini”, sesal Uder.
“Tidak semua mimpi itu indah Uder. Setiap hari ini kerjamu hanya tidur dan memancing. Itu sama saja kau menjadi seorang pemancing mimpi. Dengan mimpi-mimpi itu, kau hanya akan menjadi pemancing mimpi kosong. Impianmu hanya akan menjadi khayalan yang tidak akan terwujud karena kau tidak pernah berusaha meraihnya. Sekarang, ketika kau mengalami masalah kau baru menyadarinya”, jelas kakek.
“Tidak semua mimpi itu indah Uder. Setiap hari ini kerjamu hanya tidur dan memancing. Itu sama saja kau menjadi seorang pemancing mimpi. Dengan mimpi-mimpi itu, kau hanya akan menjadi pemancing mimpi kosong. Impianmu hanya akan menjadi khayalan yang tidak akan terwujud karena kau tidak pernah berusaha meraihnya. Sekarang, ketika kau mengalami masalah kau baru menyadarinya”, jelas kakek.
Uder seolah teringat akan perkataan dan nasihat istrinya. Ia
kini mengerti bahwa sikapnya selama ini telah salah. Ia terlalu malas dan
banyak menghayal tanpa mau berusaha. Kini ia benar-benar menyesal.
“Aku sungguh sangat menyesal, Kek. Aku janji kalau aku akan
berubah”, sesalnya lagi.
“Pergilah ke hulu sungai dan carilah pohon rambutan. Gunakan kecerdasanmu untuk menyelamatkan diri”, Jelas sang kakek.
“Pergilah ke hulu sungai dan carilah pohon rambutan. Gunakan kecerdasanmu untuk menyelamatkan diri”, Jelas sang kakek.
“Maksudnya kek?”, tanya Uder bingung.
Namun seketika seekor kera muncul di depannya dan menepuk pundaknya.
Namun seketika seekor kera muncul di depannya dan menepuk pundaknya.
“Hei kau cepat bangun!” perintah kera itu.
Seketika itu juga Uder benar-benar terbangun. Uder pun mulai menyadari bahwa yang dialaminya tadi adalah sebuah mimpi. Dengan masih setengah sadar, seekor kera bertanya lagi padanya.
Seketika itu juga Uder benar-benar terbangun. Uder pun mulai menyadari bahwa yang dialaminya tadi adalah sebuah mimpi. Dengan masih setengah sadar, seekor kera bertanya lagi padanya.
“Hei, janganlah kau melamun. Jawablah! Mimpi apa kau
semalam?”
Uder pun menceritakan bahwa ia bermimpi melihat sebuah pohon rambutan yang sangat lebat di hulu sungai. Mendengar hal itu, kawanan kera menjadi sangat senang dan meminta Uder untuk mengantarkannya.
Uder pun menceritakan bahwa ia bermimpi melihat sebuah pohon rambutan yang sangat lebat di hulu sungai. Mendengar hal itu, kawanan kera menjadi sangat senang dan meminta Uder untuk mengantarkannya.
“Aku tak mengantarkan kalian dengan diikat seperti ini”,
jelas Uder.
“Baik. Kami akan lepaskan ikatan kau. Tapi kau tidak boleh melarikan diri”, perintah pemimpin kera memberikan syarat sembari diiyakan oleh Uder.
“Baik. Kami akan lepaskan ikatan kau. Tapi kau tidak boleh melarikan diri”, perintah pemimpin kera memberikan syarat sembari diiyakan oleh Uder.
“Aku tidak akan melarikan diri kecuali jika kalian yang mengijinkannya”,
jawabnya tegas.
Kemudian, secara bersama-sama mereka berangkat menuju hulu
sungai. Namun tanpa sepengetahuan mereka, Uder telah mengambil beberapa kerikil
dan damar lalu memasukkannya ke saku celananya.
Tidak berapa lama kemudian, mereka pun sampai di hulu sungai.
Benar, ternyata ada pohon rambutan yang sangat lebat buahnya disana. Dengan
rasa gembira, kawanan kera itu pun segera memanjat pohon untuk memakan buah
tersebut. Uder yang menyaksikan tingkah para kera yang sedang kegirangan merasa
bahwa mereka sedang lengah dan inilah kesempatan baginya untuk melepaskan diri.
Ia segera mengumpulkan ranting-ranting kayu kering yang
berserakan di sekitarnya dan mengumpulkan ranting-ranting kayu kering yang
berserakan di sekitarnya dan menumpuknya di bawah pohon rambutan tempat
kera-kera itu asik memakan buahnya. Setelah itu, ia pun mengeluarkan kedua
kerikil dan damar dari saku celananya kemudian kedua kerikil itu ia gesekkan
hingga mengeluarkan percikan api. Beberapa saat
kemudian, damar pun menyala dan ia menyelipkannya ke dalam tumpukan ranting yang tadi dikumpulkannya. Api pun menjadi semakin besar dan mulai membakar pohon rambutan itu.
kemudian, damar pun menyala dan ia menyelipkannya ke dalam tumpukan ranting yang tadi dikumpulkannya. Api pun menjadi semakin besar dan mulai membakar pohon rambutan itu.
Tentu saja kera-kera tersebut sangat ketakutakan. Ia meminta
kepada Uder untuk mematikan api tersebut menyelamatkan mereka.
“Aku akan
menyelamatkan kalian, asal kalian berjanji untuk melepaskan aku. Tidak
mengejarku lagi”, pinta Uder memberikan syarat.
“Baiklah kami berjanji”, ujar pemimpin kera.
“Kau bersungguh-sungguh?” tanya Uder memastikan.
“Aku seorang pemimpin. Meskipun aku hanya seekor kera, tapi
sebagai seorang pemimpin aku tidak pernah berbohong dan akan menepati janjiku”,
ucap pemimpin kera itu lagi.
“Baiklah. Aku akan membantu kalian”, ujar Uder lagi sembari
ia pun melakukan tindakan.
Uder segera menuju sungai. Ia pun mengambil air dengan sebuah
kantong kulit yang ada di dekat sungai tersebut dalam jumlah yang banyak dan
segera menyiramkannya pada tumpukan kayu itu dana api pun segera padam.
Kawanan kera itu pun dengan cepat turun dari pohon rambutan
tersebut dan berterimakasih sekaligus meminta maaf pada Uder. Uder yang juga
menyadari kesalahannya pun meminta maaf pula pada para kera itu.
Salah satu kera yang diselamatkan Uder adalah seekor kera
betina yang sedang hamil besar. Kera tersebut pun memutuskan untuk tinggal di
daerah itu dan tidak ikut kembali bersama kawanan kera lainnya. Konon, kera
bertina itulah yang menjadi nenek moyang dari kera di daerah hulu sungai itu.
Sesuai dengan janji dari pemimpin kera, Uder pun dibebaskan.
Ia pulang ke gubugnya dengan selamat tanpa dikejar-kejar oleh kera-kera itu
seperti beberapa hari sebelumnya. Istrinya sangat senang melihat Uder yang bisa
pulang dengan selamat. Ia pun menangis sambal bersyukur pada Tuhan atas
keselamatan suaminya.
Uder pun juga telah menyadari kesalahannya dan meminta maaf
kepada instrinya itu.
“Maafkan aku istriku. Aku kini sadar. Seharusnya aku tidak bermalas-malasan saja dan terus berkhayalan. Harusnya aku mengubah khayalanku menjadi sebuah mimpi untuk diperjuangkan di dunia nyata dengan usaha, doa dan kerja keras, bukannya hanya diperjuangkan saat aku tidur saja”, ucap Uder.
“Maafkan aku istriku. Aku kini sadar. Seharusnya aku tidak bermalas-malasan saja dan terus berkhayalan. Harusnya aku mengubah khayalanku menjadi sebuah mimpi untuk diperjuangkan di dunia nyata dengan usaha, doa dan kerja keras, bukannya hanya diperjuangkan saat aku tidur saja”, ucap Uder.
“Aku sudah memaafkanku, Bang. Kita tidak perlu mengingat masa
lalu lagi. Mari kita sekarang berusaha keras untuk mewujudkan impian yang kita
inginkan. Tidak ada segala sesuatu yang didapatkan dengan mudah. Meskipun nanti
dalam usaha yang kita lakukan mengalami masalah, kita harus terus berusaha dan
percaya, Tuhan selalu mendengarkan doa umat-Nya dan mengabulkan doa orang yang
bersungguh-sungguh dan berusaha”, ujar istrinya dengan sabar.
Semenjak saat itu, Uder pun benar-benar berubah. Dengan kecerdasaannya, ia membuat keadaan ladang di kampungnya menjadi lebih baik. Dengan kecerdasannya pula, ia dapat membuat sistem berladang yang sangat baik. Ia pun membuat sistem irigasi yang hebat. Ia tidak pernah berhenti berusaha dan sangat rajin.
Semenjak saat itu, Uder pun benar-benar berubah. Dengan kecerdasaannya, ia membuat keadaan ladang di kampungnya menjadi lebih baik. Dengan kecerdasannya pula, ia dapat membuat sistem berladang yang sangat baik. Ia pun membuat sistem irigasi yang hebat. Ia tidak pernah berhenti berusaha dan sangat rajin.
Beberapa tahun kemudian, Uder pun telah memiliki ladang yang
sangat luas. Dengan luasnya ladang yang dimilikinya, ia pun dapat menciptakan
lapangan kerja baru bagi pemuda-pemuda di kampungnya yang belum memiliki
pekerjaan. Ia menjadi lebih ramah ketika bertemu dengan banyak orang dan tidak
pernah lupa untuk berbagi pada orang yang membutuhkan.
Namun, meskipun telah menjadi seorang saudagar kaya yang sangat rajin dalam bekerja, ia tidak pernah meninggalkan kebiasaannya dalam memancing. Hanya saja, ia lebih dapat membagi waktunya dengan baik. Ia hanya akan pergi memancing setelah pekerjaan di ladangnya selesai dan akan kembali sebelum matahari hari itu tenggelam.
Namun, meskipun telah menjadi seorang saudagar kaya yang sangat rajin dalam bekerja, ia tidak pernah meninggalkan kebiasaannya dalam memancing. Hanya saja, ia lebih dapat membagi waktunya dengan baik. Ia hanya akan pergi memancing setelah pekerjaan di ladangnya selesai dan akan kembali sebelum matahari hari itu tenggelam.
Hingga sekarang, Uder tetap dijuluki sebagai Uder mancing.
Baginya, ia juga tetaplah seorang pemancing. Pemancing mimpi. Hanya saja, kini
ia bukalah lagi seorang pemancing mimpi kosong, melainkan seorang pemancing
impian yang akan dirubahnya menjadi kenyataan dengan harapan, doa, dan usaha.
(Yovita
Indriya Febri Kurniasari - Dikembangkan bebas dari cerita Uder Mancing dari
Kalimantan Tengah dan Si Malang Pemimpi)
0 komentar:
Posting Komentar