Rabu, 25 November 2015

Kado Terakhir Bunda

Bunda datang atas nama cinta. 
Bunda ada dalam untaian sebuah kasih.
Entah 
Tak selalu nyata apa yang menjadikannya
Namun
Bila tercipta satu alasan yang mendasarinya
Itu adalah. . .
Aku, dan dia.


***

Wanita itu datang seolah membawa sejuta keteduhan. Menyibak segala kepedihan.  Memberi beribu macam ketenangan. Semua seperti menjadi harapan baru bagi mimpi yang bahkan tak pernah kubayangkan. Bila mungkin ada satu hal yang dapat menggambarkan segalanya, maka damai adalah sebuah kata yang tepat. Ya, damai. Begitu damai hati ini setiap melihatnya. Di sampingnya.

Aku suka melihat senyumnya. Sebuah senyum hangat yang selalu diberikannya, bagi kami anak-anaknya, meskipun kami tak berasal dari rahimnya.

Ya, dialah ibu meski tak mengandung. Dialah ibu meskipun tak pernah melahirkan. Seorang ibu yang mungkin berbeda, namun kasihnya begitu serupa. Begitu nyata. Sungguh, tak pernah kurang kurasakan rasa cinta yang diberikannya, sebagaimana layaknya kasih seorang ibu yang sesungguhnya. Dan aku pun memanggilnya, bunda.

***

Tapi kini semua berubah.  Keceriaan itu perlahan mulai sirna. Tubuhnya yang selalu segar nampak kurus tak terawat, kulit halusnya pun mulai nampak pucat pasi. Mata indahnya bahkan dikelilingi penuh oleh lingkaran hitam, dan bibirnya pun kering. Tak kulihat lagi senyum indahnya yang dulu. Senyumnya kini begitu miris. Begitu menyayat hati.

Aku tahu ini berbeda. Ini tak biasa, sungguh aneh. Layaknya seorang peri tak bersayap yang berjalan di hampanya temaram malam, ia mencoba menyembunyikan guratan hatinya, noda dalam perasaannya yang lembut. Namun, sebesar apapun usahanya untuk menutup segala kesedihannya, aku tahu hatinya sedang terluka.

Aku begitu memikirkannya. Tak ingin melihatnya seperti ini. Seandainya ada yang bisa kulakukan untuk menghiburnya, pasti akan kulakukan segalanya karena aku begitu menyayanginya.

Tetapi itu semua sungguh berbeda dengan kakakku. Jangankan untuk peduli pada bunda, menatapnya pun ia tak mau. Begitu jelas terlihat sorot kebencian yang nampak dari matanya. Tak dapat kurasakan sedikitpun rasa peduli kakak untuk bunda.


Semua ini berawal dari keputusan ayah untuk mencari ibu baru bagi kami. Ayah pun kembali menikah untuk yang kedua kalinya. Mulanya aku dan kakak tidak setuju akan keputusan ini. Namun, setelah aku mencoba mengenal bunda, pandanganku mulai berubah. Dapat kurasakan tatapan tulusnya. Ia merawat kami dengan penuh kasih. Bunda begitu menyayangi kami. Jujur, mungkin semua ini sungguh membuat hatiku nyaman. Begitu lama aku tak merasakan kasih sayang seorang ibu. Semenjak ibu pergi untuk selamanya, perasaan ini kosong, begitu hampa. Tetapi, entah sejak kapan dan bagaimana perasaan ini ada, namun rasa ini terasa nyata saat bunda datang. Aku mulai menyayanginya. Menyayangi bunda.
Sayangnya, kakak tak dapat merasakan kasih bunda. Kakak tetap kekeuh membenci bunda. Bahkan, kakak tidak pernah memanggil ibu baru kami itu dengan sebutan bunda. Ya, aku rasa mungkin kakak hanya membutuhkan sedikit waktu lagi untuk menata hatinya, menjernihkan pikirannya. Aku yakin tak lama lagi kakak akan mengerti dengan semua keadaan ini dan keluarga kami pun akan kembali pada sebuah kata ‘utuh’. Kembali memberikan suasana hangat sebuah keluarga, seperti yang selama ini aku rindukan.
Namun ternyata semua salah.

Ketika roda terus melaju
Tak ada yang mengenal sebuah nasib waktu
Meskipun bibir hanya dapat membeku
Namun hati tak bisa menipu.
***

Keadaan pun semakin bertambah buruk ketika kejadian pilu itu terjadi. Mobil ayah mengalami kecelakaan ketika ayah sedang pergi bersama bunda. Semenjak saat itu keadaan makin memburuk. Kakak semakin acuh kepada bunda. Bahkan, kini bukan hanya pada bunda saja. Ia juga acuh padaku, adik kandungnya sendiri. Kakak tak mau lagi pergi kesekolah. Ia tak ingin bertemu siapapun. Bibirnya seolah terkunci rapat. Dalam kesehariannya, dari ia hanya berdiam di balkon kamar, hanya mampu menatap langit mendung yang tak dihiasi oleh satu pun bintang. Begitu kelabu, mungkin sama seperti hati kakak saat ini. Tatapannya kosong, tetapi aku tahu sirat matanya menggambarkan pedih, pedih yang teramat dalam. Mungkin inilah yang membuat hati bunda seperti begitu miris. Bunda begitu memikirkan kakak.
Sebenarnya aku tak menyalahkan kakak akan sikapnya. Aku juga dapat mengerti bagaimana perasaan kakak saat ini. Kehilangan orang yang begitu kita cintai memang bukanlah sebuah hal yang mudah. Apalagi selama ini kakak begitu dekat dengan ayah dan ibu. Namun bagaimana dengan bunda? Apa ini semua kesalahannya? Mengapa bunda yang harus menerima semua ini?

Disaat sebuah kata terucap
Akankah sebuah ketulusan kan teruji?
Bila sebuah kata harus tersyarat
Akankah semua menjadi berarti?
***

“Tante, aku mau pesta ulang tahun.”
Mungkin itu adalah kata pertama yang diucapkan kakak untuk bunda. Aku dan bunda tentu sangat terkejut. Bagaimana tidak, selama ini kakak selalu bersikap acuh pada bunda, apalagi sejak ayah meninggal. Kakak benar-benar menjadi orang yang antisosial. Kakak yang begitu kukenal sebagai pribadi yang baik hati, penyayang dan selalu peduli pada orang lain itu telah berubah. Aku seperti tak mengenalnya lagi. Sikapnya berubah kasar. Emosinya begitu buruk, begitu temperamental.. Ia tak peduli lagi pada orang lain, yang terpenting baginya adalah dirinya. Kebahagian dirinya.
 Aku sangat berharap bahwa permintaan kakak ini akan menjadi awal yang baik untuk merajut kembali benang-benang kerapuhan dalam keluarga kami.
“Kok diam, kenapa? Apa aneh kalau seorang gadis yang menginjak masa remaja menginginkan pesta di umurnya yang ke-17?”, ujar kakak lagi dengan tetap acuh.
Bunda yang semula tertegun atas perubahan sikap kakak ini pun mulai menjawab dengan senang,
“Pesta, sayang? Kamu mau pesta? Iya tentu. Bunda pasti akan buatkan sebuah pesta untuk kamu. Kamu mau pesta yang seperti apa?”
“Tentu saja harus pesta yang sangat meriah dengan bintang tamu yang sangat terkenal. Kalau perlu, artis aja sekalian. Pokoknya aku mau semua teman-temanku di undang supaya ulang tahunku kali ini menjadi ulang tahun yang tak terlupakan. Oya, gaun yang kupakai nanti juga harus bagus dan mewah karena aku ingin tampil sebagai gadis tercantik di pesta ulang tahunku.”, jelas kakak.
Mendengar hal tersebut, bunda pun sedikit kecewa.
“Tapi sayang, darimana bunda punya uang untuk pesta sebesar itu. Kamu kan tahu sendiri, semenjak ayahmu meninggal, keadaan keuangan keluarga kita memburuk. Apalagi bunda juga harus membayar biaya penyembuhan asma adikmu. Semuanya butuh biaya yang sangat mahal, sayang. Kalau hanya sekedar pesta biasa bunda akan usahakan, tapi untuk pesta besar rasanya akan sulit sayang untuk sekarang ini.”, sesal bunda.
“Lho, itu urusan tante. Tante itu kan orang tuaku. Kewajiban orang tua itu memenuhi kebutuhan anaknya. Kalau tante tidak bisa, ya jangan menikah dengan ayah, dong. Ingat ya tante, kalau saja saat itu tante tidak mengajak ayah keluar saat itu, kecelakaan itu tidak akan terjadi. Ayah tidak akan meninggal dan keluarga kita tidak akan seperti ini.”, bentak kakak seraya meninggalkan bunda yang sangat menyesal mengingat kejadian tersebut. Sinar keceriaan yang sempat tersirat dari pancaran mata bunda kini kembali memudar.
Aku sungguh tak menyangka kakak dapat mengatakan hal demikian. Mendengar ucapan kakak itu aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku tak habis pikir bagaimana mungkin kakak tega melakukan hal seperti itu pada wanita yang selama ini telah begitu ikhlas merawat kami itu. Betapa teganya kakak. Sungguh tak dapat kubayangkan bagaimana perasaan bunda sekarang ini. Aku tahu sebenarnya hati bunda begitu pilu menerima perlakuan kakak tadi. Akan tetapi ia begitu pintar menyembunyikan semua dibalik senyumnya yang sebenarnya nampak pedih itu. Aku berusaha untuk menghibur bunda. Namun bunda selalu mencoba untuk meyembunyikan kesedihannya.
“Tenang saja, bunda pasti bisa menemukan caranya.”, ujar bunda kepadaku sambil kembali mencoba tersenyum.
***
Bagai debu
Tiada berharga
Tiada bernilai
Hanya terdiam, terinjak
Namun bila waktu menjanjikan sebuah mimpi
Akan dilakukan segalanya
Tuk berharap menemukan butiran mutiara dalam gundukan pasir.
***
Permintaan kakak ini benar-benar membuat bunda harus merelakan seluruh waktunya untuk bekerja. Demi mendapatkan biaya tambahan untuk pesta kakak, bunda rela mengambil kerja lembur hingga larut malam. Bahkan, sepulang kerja pun bunda juga masih rela bekerja membuat kue untuk dijual esok hari. Sungguh pekerjaan yang begitu melelahkan untuk wanita yang telah mulai beranjak usia itu. Namun ia tak pernah sedikitpun mengeluh. Baginya, kebahagiaanku dan kakaklah yang terpenting.
Setiap malam, aku jarang melihat bunda beristirahat dengan cukup. Setelah membuat kue, bunda nampak sangat sibuk di kamarnya. Aku sempat melihat bunda nampak serius mengerjakan sesuatu. Aku hanya tak tahu itu apa. Namun sepertinya bunda merahasiakan hal ini padaku dan kakak sehingga aku tak berani menanyakan hal itu pada bunda. Biarlah rasa penasaran ini kusimpan dalam hatiku. Aku yakin nanti bunda akan mengatakannya.


Tak terasa, hari ulang tahun kakak pun semakin dekat. Bunda pun semakin giat mengumpulkan uang demi kakak. Mungkin sudah tak terhitung lagi banyaknya keringat yang terkuras dari tubuh bunda hanya untuk kami. Namun tak sedikit pun kulihat kakak memberikan rasa simpatinya pada bunda.  Berulang kali kucoba berbicara pada kakak agar mau merubah sedikit saja sikapnya pada bunda. Namun semua sia-sia. Kakak tetap tak acuh. Ia justru membentakku. Bagi kakak, apa yang dilakukan bunda hanyalah sebuah kewajiban, bukan sebuah pengorbanan.
“Kak, kenapa sih kakak setega ini pada bunda? Kasihan kak. Kakak nggak lihat apa wajah bunda sampai pucat gitu. Ini semua untuk kakak. Untuk membuat pesta kakak. Simpati sedikit dong, kak!”, ujarku pada kakak
“Ah, udahlah. Kamu tuh masih kecil. Nggak tahu apa-apa. Kamu nggak bisa ngerasain apa yang kakak rasain.”, bantah kakak tetap cuek.
“Nggak bisa ngerasain gimana sih? Kak, aku ini adik kakak. Jelas aku tahu gimana perasaan kakak. Mau sampai kapan kakak begini? Aku juga merasa terpukul kak atas kematian ayah dan ibu. Tapi kita juga harus realistis kak. Ayah dan ibu sudah tiada. Kita harus menerima kalau sekarang yang ada hanya bunda. Kita harus bisa menghormatinya seperti kita menghormati ibu, kak.”, ujarku lagi seraya memberi nasihat pada kakak.
Mendengar hal itu kakak sangat marah.
“Diam ! Kakak nggak mau dengar lagi kamu bilang seperti itu. Sampai kapanpun nggak ada yang akan bisa menggantikan posisi ibu. Kamu itu nggak pernah ngerti posisi kakak. Kakak itu malu, kakak iri dengan teman-teman. Kakak marah, kakak kecewa. Kenapa masa remaja kakak beda dengan yang lain? Kakak malu diejek punya ibu tiri. Kakak malu harus ke sekolah naik sepeda padahal semua anak naik mobil. Kakak malu dengan semuanya. Ini nggak adil. Kakak benci keadaan ini. ”, bentak kakak lalu terdiam sesaat.
“Semua temen-temen kakak ngejauhin kakak karena keadaan kita tidak seperti dulu lagi. Dulu, kakak selalu memimpikan akan mendapatkan masa SMA yang sempurna. Dulu, kakak nggak pernah sabar untuk segera merasakan indahnya bangku SMA. Tapi sekarang semua berubah. Ini semua kaya di neraka. Kakak benci masa remaja kakak. Kakak nggak bisa percaya sama orang lain lagi. Seandainya kecelakaan itu nggak terjadi semua nggak akan pernah seperti ini !!!”, Teriak kakak lagi dengan histeris sembari berlari menuju kamarnya.
Selama ini aku tak pernah sadar betapa kejadian ini telah membuat lubang yang begitu besar di dalam hatinya. Ia terlalu takut, tak siap menghadapi masa remajanya yang berbeda dari remaja kebanyakan. Aku selalu ingat, dulu ia sering menceritakan mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan di masa remajanya. Mungkin ini pribadi kakak yang sebenarnya. Kakak yang selalu nampak keras di luar. Namun sebenarnya di dalam hatinya begitu rapuh. Ia hanya berusaha untuk menutupi segala retakan kekecewaannya.
Aku pun tak dapat berbuat apapun. Aku hanya berharap semoga suatu saat nanti kakak dapat menyadari bahwa apa yang selama ini dilakukan bunda sungguh tulus.

Wajah bunda kini benar-benar nampak pucat. Tak ada lagi sorot semangat yang terpancar. Lingkaran hitam di bawah matanya seolah menunjukkan betapa berat perjuangan yang dilakukannya. Ia nampak begitu lelah. Keadaan ini sangat membuatku cemas. Aku hanya berharap ini tak akan berpengaruh buruk pada kesehatan bunda.
Kulihat bunda telah benar-benar sangat lelah. Aku berusaha untuk membantunya. Namun bunda selalu menolak bantuanku. Beliau ingin menyiapkan pesta kakak dengan tangannya sendiri. Kakak harusnya dapat melihat sikap bunda yang begitu menyayanginya.
Bunda mencoba menghias bagian atas rumah. Karena rumah kami lumayan tinggi, maka ia pun menggunakan tangga kecil sebagai pijakannya. Namun tiba-tiba bunda terlihat pusing. Sepertinya ia terlalu lelah. Tanpa sadar bunda pun terpeleset dari tangga dan terjatuh di lantai. Kudapati bunda tergeletak lemah tak berdaya hampir kehilangan kesadarannya. Dari kepalanya mengalir begitu banyak darah.
Selama beberapa jam bunda tak sadarkan diri.  
***
Aku tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Segera kupanggil dokter untuk memeriksa keadaan bunda. Tak henti-hentinya aku menangis dan berteriak menyalahkan kakak. Emosi ini tak dapat tertahankan lagi. Aku marah. Ya aku begitu marah pada kakak. Aku tak tahan lagi melihat sikap kakak seperti ini. Tapi aneh, kali ini kakak tak sedikitpun membalas perkataanku. Ia tak lagi membentakku seperti biasanya. Kini ia hanya terdiam. Bibirnya membisu. Tatapannnya hanya tertuju kearah kamar bunda. Aku tak tahu apa yang kurasakan ini benar . Namun sorot mata saudaraku satu-satunya ini terlihat menampakkan sebuah kecemasan. Kakak mulai mencemaskan bunda.
“Ibu anda sepertinya terkena gagar otak.”
“Gagar otak dok?”, Aku mengulang pernyataan dokter seolah tak percaya.
“Benar. Sepertinya saat jatuh pingsan tadi ibu kepala ibu anda terbentur dengan keras. Mungkin dapat saya bilang bahwa keadaan ibu anda kritis.”,
“Apa dok?”
“Maafkan saya, dik. Namun saya sudah berusaha semampu saya. Lebih baik sekarang kita pasrahkan semuanya pada Tuhan. Sekarang ibu anda belum sadarkan diri. Jika nanti ibu dapat segera siuman dan dapat langsung berbicara, berarti keadaannya membaik. Namun sebaliknya, jika setelah siuman ibu anda merasa mual dan muntah, mungkin adik harus mulai mengikhlaskan semua.”, jelas dokter.
Hujan Februari itu mulai menginjak-injak atap rumah kami dan angin pun juga berhembus dengan kencangnya hingga membuka jendela yang harusnya tertutup rapat itu. Sungguh keadaan yang begitu ramai. Namun, bunda tetap terbaring dalam kedamaiannya.
Tetapi tiba-tiba tubuh bunda kejang. Sepertinya ia akan muntah. Aku begitu takut dan cemas. Bahkan kulihat kakakku juga tak dapat menahan air matanya.
“Kenapa sih semua jadi begini. Ini hari ulang tahunku. Kenapa semuanya kacau. Aku tak ingin begini. Aku tak ingin seperti. Aku. . aku. . aku harus bagaimana?”, kata kakak yang tiba-tiba berteriak. Ia seolah tak kuasa melihat ini terjadi. Kakak tertunduk lemas tak berdaya. Ia lalu hanya terdiam meratapi ini semua.
 Inilah pertama kalinya kulihat sikap kakak berubah. Kakak yang acuh, pendiam dan angkuh kini mulai peduli pada keadaan sekitarnya. Ia mencemaskan bunda. Sesaat aku merasa telah mendapatkan kakakku kembali.
Semenjak ayah meninggalkan kami, aku merasa tak mengenal lagi siapa kakakku. Namun sekarang aku telah melihat sosok kakak yang kurindukan itu kembali. Bahkan, ia pun melakukan sesuatu yang hampir tak pernah dilakukannya selama beberapa tahun ini. Ia menangis…..
“Tuhan, ini adalah hari ulang tahunku. Aku tahu begitu banyak yang kuminta pada-Mu selama ini. Tapi kali ini, jika boleh aku memohon kembali. Aku tak ingin lagi kue. Aku tak perlu gaun indah. Aku juga tak membutuhkan pesta mewah lagi. Hanya satu Tuhan, sembuhkanlah dia.”

Bila maaf dapat merubah segalanya
Akankah penyesalan dapat menjadi berarti?
Serahkan saja s’mua pada sang waktu
Dan biarkan ia yang menjawab bagaimana kisah ini harus berlanjut.
***

Disini, kini aku dan kakak berdiri. . .

RORO AYU ANJANI PUSPITASARI

Ya, kami hanya terus memandang. Memandang dengan tatapan kosong sebuah pusara yang menorehkan tinta nama bunda disana. Tak ada air mata. Tak ada lagi nestapa. Namun sebuah guratan luka tetap tersimpan rapi dalam hati kami.
Tak terasa telah genap satu tahun semenjak bunda pergi meninggalkan kami. Sekarang, saatnya untukku memberikan sebuah kotak pemberian bunda untuk kakak. Kotak itu dititipkan bunda padaku sesaat sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya untuk diberikan pada kakak tepat satu tahun setelah kepergiannya ke sisi lain dunia.
Kakak membuka kotak itu dengan perlahan dan mulai  mengeluarkan sebuah surat yang tersimpan rapi dalam kotak itu lalu membacanya.
Dengan jari-jari ini bunda jahitkan gaun ini untukmu. Bunda ingin kamu menjadi layaknya seorang putri di hari yang begitu istimewa ini. Bunda sangat yakin kamu akan terlihat cantik, secantik hati kamu. Ketahuilah, kamu itu istimewa, sayang.
Bunda sadar, kamu begitu membenci bunda. Namun bunda tahu bahwa itu rasa itu  bukan murni dari hatimu. Semua hanya karena keadaan. Keadaanlah yang membuatmu takut menerima sebuah kata takdir. Bunda tahu, kamu hanya tak sanggup untuk terluka. Lagi.
Sayang, bunda hanya ingin kamu tahu. Saat terindah yang pernah bunda miliki adalah ketika takdir mempertemukan bunda dengan ayah yang sekaligus membawa bunda di hadapan dua gadis cantik yang sangat bunda sayangi. Bertemu dengan kalian adalah sebuah anugrah yang tak ternilai oleh apapun.
Bunda tak peduli bila setiap hari harus menjahitkan gaun-gaun ini untukmu. Bunda tak peduli bila setiap hari harus membanting tulang untuk membuatkanmu sebuah pesta. Bahkan bunda rela jika harus menukarkan diri ini untuk kamu. Bunda hanya ingin kamu bahagia. Bunda ingin kamu mendapatkan impian yang selama ini kamu inginkan.
Kalian berdua adalah bidadari dalam hidup bunda. Meskipun kalian bukanlah dari rahim ini, namun rasa ini sungguh tulus.
Apapun akan bunda lakukan untuk merebut hati kamu lagi, sayang. Bunda takkan menyerah. Ini semua karena bunda begitu dan begitu menyayangimu, setulus hati bunda.
Kakak membaca surat itu degan hati gamang. Ia pun tak kuasa lagi menahan air matanya. Begitu pula denganku. Ia memeluk gaun terakhir yang diberikan bunda dengan penuh perasaan. Tak pernah kusangka, begitu besar kasih bunda pada kami. Selelah apapun bunda, ia tetap menyempatkan diri untuk menjahitkan gaun untuk kakak, dengan jari-jari tangannya sendiri. Kini aku tahu apa yang dikerjakan bunda setiap malam. Wanita itu rela tak tidur untuk memberikan kado terindah untuk kakak, sebuah kado yang sekaligus menjadi hadiah terakhir kakak, dari bunda. Bunda ingin merebut hatinya. Beliau tak pernah memikirkan dirinya, yang terpenting baginya hanyalah kami. Baginya, kami adalah bidadari. Namun bagiku, ialah bidadari yang sesungguhnya. Seorang malaikat yang dikirim Tuhan bagi kami.
Aku menenangkan kakakku. Dan kami pun mulai memandang pusara bunda dengan hati yang lebih tenang.
                Tuhan memang adil. Mungkin kami harus kehilangan kedua orang tua yang paling kami sayangi. Namun Tuhan telah menggantinya dengan seorang malaikat yang sangat tulus mencintai kami selayaknya orang tua kami sendiri. Bunda sungguh adalah malaikat. Saat bunda hidup ia banyak mengajarkanku tentang arti sebuah pengorbanan, cinta dan ketulusan. Dan tak pernah kusangka bahkan saat kepergiannya pun, Bunda memberikan sebuah arti yang begitu besar bagi kami yang ditinggalkannya, terutama bagi kakak. Bunda yang telah tiada justru telah memberi semangat bagi kami yang ditinggalkannya untuk menjadi lebih hidup.
Kini kakak jauh lebih dewasa. Ia semakin peduli pada orang lain. Ia tak takut lagi harus kehilangan masa remajanya. Kakak sekarang tak peduli lagi bila masa remajanya berbeda dari yang lain. Baginya, ia tetaplah sama. Seorang remaja yang punya cita-cita, impian dan harapan. Tak peduli seberapa besar dan berat rintangan yang akan dihadapinya, kakak akan berusaha mewujudkan mimpi itu.
 Kami mungkin kini tak lagi punya orang tua, pakaian-pakaian mewah ataupun harta yang berlebih. Namun kami mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari itu semua di masa remaja kami. Kedewasaan. Ya, kami banyak belajar tentang arti pengorbanan dan keikhlasan dari bunda yang membuat kami semakin dewasa dalam menjalani hidup. Proses pendewasaan itulah yang merupakan harta berharga yang tak bernilai apapun. Bagi kami, itulah kado terindah yang sesungguhnya bunda telah berikan di penghujung usianya. Tak nampak, namun begitu terasa nyata di dalam hati kami.
“Ayo pulang, kak. Udah sore, nih”, ajakku.
“ Iya, tunggu sebentar.”, pintanya
Kakak mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan sebuah kalimat disana. Ia meletakkan kertas itu di atas pusara bunda dan kembali mengajakku pulang.
“Ayo pulang.”, ajak kakak
Aku melirik sejenak kertas tersebut dan kembali tersenyum. Perlahan kami berjalan membelakangi makam bunda. Hari yang beranjak senja itu seolah telah menjadi saksi kedamaian hati kami saat itu. 

You’re always in my heart
Takkan lekang kasih ini untukmu hari ini, esok, dan seterusnya, BUNDA.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Follow Your Dream Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template