Bunda
datang atas nama cinta.
Bunda
ada dalam untaian sebuah kasih.
Tak selalu nyata apa yang menjadikannya
Namun
Bila tercipta satu alasan yang mendasarinya
Itu adalah. . .
Aku, dan dia.
***
Wanita itu datang seolah membawa sejuta
keteduhan. Menyibak segala kepedihan. Memberi
beribu macam ketenangan. Semua seperti menjadi harapan baru bagi mimpi yang
bahkan tak pernah kubayangkan. Bila mungkin ada satu hal yang dapat menggambarkan
segalanya, maka damai adalah sebuah kata yang tepat. Ya, damai. Begitu damai
hati ini setiap melihatnya. Di sampingnya.
Aku suka melihat senyumnya. Sebuah senyum
hangat yang selalu diberikannya, bagi kami anak-anaknya, meskipun kami tak
berasal dari rahimnya.
Ya, dialah ibu meski tak mengandung. Dialah
ibu meskipun tak pernah melahirkan. Seorang ibu yang mungkin berbeda, namun
kasihnya begitu serupa. Begitu nyata. Sungguh, tak pernah kurang kurasakan rasa
cinta yang diberikannya, sebagaimana layaknya kasih seorang ibu yang
sesungguhnya. Dan aku pun memanggilnya, bunda.
***
Tapi kini semua berubah. Keceriaan itu perlahan mulai sirna. Tubuhnya
yang selalu segar nampak kurus tak terawat, kulit halusnya pun mulai nampak pucat
pasi. Mata indahnya bahkan dikelilingi penuh oleh lingkaran hitam, dan bibirnya
pun kering. Tak kulihat lagi senyum indahnya yang dulu. Senyumnya kini begitu
miris. Begitu menyayat hati.
Aku tahu ini berbeda. Ini tak biasa, sungguh
aneh. Layaknya seorang peri tak bersayap yang berjalan di hampanya temaram
malam, ia mencoba menyembunyikan guratan hatinya, noda dalam perasaannya yang
lembut. Namun, sebesar apapun usahanya untuk menutup segala kesedihannya, aku
tahu hatinya sedang terluka.
Aku begitu memikirkannya. Tak ingin
melihatnya seperti ini. Seandainya ada yang bisa kulakukan untuk menghiburnya,
pasti akan kulakukan segalanya karena aku begitu menyayanginya.
Tetapi itu semua sungguh berbeda dengan
kakakku. Jangankan untuk peduli pada bunda, menatapnya pun ia tak mau. Begitu
jelas terlihat sorot kebencian yang nampak dari matanya. Tak dapat kurasakan
sedikitpun rasa peduli kakak untuk bunda.
Semua ini berawal dari keputusan ayah untuk
mencari ibu baru bagi kami. Ayah pun kembali menikah untuk yang kedua kalinya.
Mulanya aku dan kakak tidak setuju akan keputusan ini. Namun, setelah aku
mencoba mengenal bunda, pandanganku mulai berubah. Dapat kurasakan tatapan
tulusnya. Ia merawat kami dengan penuh kasih. Bunda begitu menyayangi kami. Jujur,
mungkin semua ini sungguh membuat hatiku nyaman. Begitu lama aku tak merasakan
kasih sayang seorang ibu. Semenjak ibu pergi untuk selamanya, perasaan ini
kosong, begitu hampa. Tetapi, entah sejak kapan dan bagaimana perasaan ini ada,
namun rasa ini terasa nyata saat bunda datang. Aku mulai menyayanginya.
Menyayangi bunda.
Sayangnya, kakak tak dapat merasakan
kasih bunda. Kakak tetap kekeuh membenci
bunda. Bahkan, kakak tidak pernah memanggil ibu baru kami itu dengan sebutan
bunda. Ya, aku rasa mungkin kakak hanya membutuhkan sedikit waktu lagi untuk
menata hatinya, menjernihkan pikirannya. Aku yakin tak lama lagi kakak akan
mengerti dengan semua keadaan ini dan keluarga kami pun akan kembali pada
sebuah kata ‘utuh’. Kembali memberikan suasana hangat sebuah keluarga, seperti
yang selama ini aku rindukan.
Namun ternyata semua
salah.
Ketika
roda terus melaju
Tak
ada yang mengenal sebuah nasib waktu
Meskipun
bibir hanya dapat membeku
Namun
hati tak bisa menipu.
***
Keadaan pun semakin bertambah buruk
ketika kejadian pilu itu terjadi. Mobil ayah mengalami kecelakaan ketika ayah
sedang pergi bersama bunda. Semenjak saat itu keadaan makin memburuk. Kakak
semakin acuh kepada bunda. Bahkan, kini bukan hanya pada bunda saja. Ia juga
acuh padaku, adik kandungnya sendiri. Kakak tak mau lagi pergi kesekolah. Ia
tak ingin bertemu siapapun. Bibirnya seolah terkunci rapat. Dalam
kesehariannya, dari ia hanya berdiam di balkon kamar, hanya mampu menatap
langit mendung yang tak dihiasi oleh satu pun bintang. Begitu kelabu, mungkin
sama seperti hati kakak saat ini. Tatapannya kosong, tetapi aku tahu sirat
matanya menggambarkan pedih, pedih yang teramat dalam. Mungkin
inilah yang membuat hati bunda seperti begitu miris. Bunda begitu memikirkan
kakak.
Sebenarnya aku tak
menyalahkan kakak akan sikapnya. Aku juga dapat mengerti bagaimana perasaan
kakak saat ini. Kehilangan orang yang begitu kita cintai memang bukanlah sebuah
hal yang mudah. Apalagi selama ini kakak begitu dekat dengan ayah dan ibu.
Namun bagaimana dengan bunda? Apa ini semua kesalahannya? Mengapa bunda yang
harus menerima semua ini?
Disaat
sebuah kata terucap
Akankah
sebuah ketulusan kan teruji?
Bila
sebuah kata harus tersyarat
Akankah
semua menjadi berarti?
***
“Tante, aku mau pesta ulang tahun.”
Mungkin itu adalah kata pertama yang
diucapkan kakak untuk bunda. Aku dan bunda tentu sangat terkejut. Bagaimana
tidak, selama ini kakak selalu bersikap acuh pada bunda, apalagi sejak ayah
meninggal. Kakak benar-benar menjadi orang yang antisosial. Kakak yang begitu
kukenal sebagai pribadi yang baik hati, penyayang dan selalu peduli pada orang
lain itu telah berubah. Aku seperti tak mengenalnya lagi. Sikapnya berubah
kasar. Emosinya begitu buruk, begitu temperamental.. Ia tak peduli lagi pada
orang lain, yang terpenting baginya adalah dirinya. Kebahagian dirinya.
Aku sangat berharap bahwa permintaan kakak ini
akan menjadi awal yang baik untuk merajut kembali benang-benang kerapuhan dalam
keluarga kami.
“Kok diam, kenapa? Apa aneh kalau
seorang gadis yang menginjak masa remaja menginginkan pesta di umurnya yang
ke-17?”, ujar kakak lagi dengan tetap acuh.
Bunda yang semula tertegun atas
perubahan sikap kakak ini pun mulai menjawab dengan senang,
“Pesta, sayang? Kamu mau pesta? Iya
tentu. Bunda pasti akan buatkan sebuah pesta untuk kamu. Kamu mau pesta yang seperti
apa?”
“Tentu saja harus pesta yang sangat
meriah dengan bintang tamu yang sangat terkenal. Kalau perlu, artis aja
sekalian. Pokoknya aku mau semua teman-temanku di undang supaya ulang tahunku
kali ini menjadi ulang tahun yang tak terlupakan. Oya, gaun yang kupakai nanti juga
harus bagus dan mewah karena aku ingin tampil sebagai gadis tercantik di pesta
ulang tahunku.”, jelas kakak.
Mendengar hal tersebut, bunda pun
sedikit kecewa.
“Tapi sayang, darimana bunda punya uang
untuk pesta sebesar itu. Kamu kan tahu sendiri, semenjak ayahmu meninggal,
keadaan keuangan keluarga kita memburuk. Apalagi bunda juga harus membayar
biaya penyembuhan asma adikmu. Semuanya butuh biaya yang sangat mahal, sayang.
Kalau hanya sekedar pesta biasa bunda akan usahakan, tapi untuk pesta besar
rasanya akan sulit sayang untuk sekarang ini.”, sesal bunda.
“Lho, itu urusan tante. Tante itu kan
orang tuaku. Kewajiban orang tua itu memenuhi kebutuhan anaknya. Kalau tante
tidak bisa, ya jangan menikah dengan ayah, dong. Ingat ya tante, kalau saja
saat itu tante tidak mengajak ayah keluar saat itu, kecelakaan itu tidak akan
terjadi. Ayah tidak akan meninggal dan keluarga kita tidak akan seperti ini.”,
bentak kakak seraya meninggalkan bunda yang sangat menyesal mengingat kejadian
tersebut. Sinar keceriaan yang sempat tersirat dari pancaran mata bunda kini
kembali memudar.
Aku sungguh tak
menyangka kakak dapat mengatakan hal demikian. Mendengar ucapan kakak itu aku hanya bisa
menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku tak habis pikir bagaimana mungkin kakak tega
melakukan hal seperti itu pada wanita yang selama ini telah begitu ikhlas
merawat kami itu. Betapa teganya kakak. Sungguh tak dapat kubayangkan
bagaimana perasaan bunda sekarang ini. Aku tahu sebenarnya hati bunda begitu pilu menerima perlakuan kakak
tadi. Akan tetapi ia begitu pintar menyembunyikan semua dibalik senyumnya yang
sebenarnya nampak pedih itu. Aku berusaha untuk menghibur bunda. Namun
bunda selalu mencoba untuk meyembunyikan kesedihannya.
“Tenang saja, bunda pasti bisa menemukan
caranya.”, ujar bunda kepadaku sambil kembali mencoba tersenyum.
***
Bagai
debu
Tiada
berharga
Tiada
bernilai
Hanya
terdiam, terinjak
Namun
bila waktu menjanjikan sebuah mimpi
Akan
dilakukan segalanya
Tuk
berharap menemukan butiran mutiara dalam gundukan pasir.
***
Permintaan kakak ini benar-benar membuat
bunda harus merelakan seluruh waktunya untuk bekerja. Demi mendapatkan biaya
tambahan untuk pesta kakak, bunda rela mengambil kerja lembur hingga larut
malam. Bahkan, sepulang kerja pun bunda juga masih rela bekerja membuat kue
untuk dijual esok hari. Sungguh pekerjaan yang begitu melelahkan untuk wanita
yang telah mulai beranjak usia itu. Namun ia tak pernah sedikitpun mengeluh.
Baginya, kebahagiaanku dan kakaklah yang terpenting.
Setiap malam, aku jarang melihat bunda
beristirahat dengan cukup. Setelah membuat kue, bunda nampak sangat sibuk di
kamarnya. Aku sempat melihat bunda nampak serius mengerjakan sesuatu. Aku hanya
tak tahu itu apa. Namun sepertinya bunda merahasiakan hal ini padaku dan kakak
sehingga aku tak berani menanyakan hal itu pada bunda. Biarlah rasa penasaran
ini kusimpan dalam hatiku. Aku yakin nanti bunda akan mengatakannya.
Tak terasa, hari ulang tahun kakak pun semakin
dekat. Bunda pun semakin giat mengumpulkan uang demi kakak. Mungkin sudah tak
terhitung lagi banyaknya keringat yang terkuras dari tubuh bunda hanya untuk
kami. Namun tak sedikit pun kulihat kakak memberikan rasa simpatinya pada
bunda. Berulang kali kucoba berbicara
pada kakak agar mau merubah sedikit saja sikapnya pada bunda. Namun semua
sia-sia. Kakak tetap tak acuh. Ia justru membentakku. Bagi kakak, apa yang
dilakukan bunda hanyalah sebuah kewajiban, bukan sebuah pengorbanan.
“Kak, kenapa sih kakak setega ini pada
bunda? Kasihan kak. Kakak nggak lihat apa wajah bunda sampai pucat gitu. Ini
semua untuk kakak. Untuk membuat pesta kakak. Simpati sedikit dong, kak!”,
ujarku pada kakak
“Ah, udahlah. Kamu tuh masih kecil.
Nggak tahu apa-apa. Kamu nggak bisa ngerasain apa yang kakak rasain.”, bantah
kakak tetap cuek.
“Nggak bisa ngerasain gimana sih? Kak,
aku ini adik kakak. Jelas aku tahu gimana perasaan kakak. Mau sampai kapan
kakak begini? Aku juga merasa terpukul kak atas kematian ayah dan ibu. Tapi
kita juga harus realistis kak. Ayah dan ibu sudah tiada. Kita harus menerima
kalau sekarang yang ada hanya bunda. Kita harus bisa menghormatinya seperti
kita menghormati ibu, kak.”, ujarku lagi seraya memberi nasihat pada kakak.
Mendengar hal itu kakak sangat marah.
“Diam ! Kakak nggak mau dengar lagi kamu
bilang seperti itu. Sampai kapanpun nggak ada yang akan bisa menggantikan
posisi ibu. Kamu itu nggak pernah ngerti posisi kakak. Kakak itu malu, kakak iri
dengan teman-teman. Kakak marah, kakak kecewa. Kenapa masa remaja kakak beda
dengan yang lain? Kakak malu diejek punya ibu tiri. Kakak malu harus ke sekolah
naik sepeda padahal semua anak naik mobil. Kakak malu dengan semuanya. Ini
nggak adil. Kakak benci keadaan ini. ”, bentak kakak lalu terdiam sesaat.
“Semua temen-temen kakak ngejauhin kakak
karena keadaan kita tidak seperti dulu lagi. Dulu, kakak selalu memimpikan akan
mendapatkan masa SMA yang sempurna. Dulu, kakak nggak pernah sabar untuk segera
merasakan indahnya bangku SMA. Tapi sekarang semua berubah. Ini semua kaya di
neraka. Kakak benci masa remaja kakak. Kakak nggak bisa percaya sama orang lain
lagi. Seandainya kecelakaan itu nggak terjadi semua nggak akan pernah seperti
ini !!!”, Teriak kakak lagi dengan histeris sembari berlari menuju kamarnya.
Selama ini aku tak pernah sadar betapa
kejadian ini telah membuat lubang yang begitu besar di dalam hatinya. Ia
terlalu takut, tak siap menghadapi masa remajanya yang berbeda dari remaja
kebanyakan. Aku selalu ingat, dulu ia sering menceritakan mimpi-mimpi yang
ingin diwujudkan di masa remajanya. Mungkin ini pribadi kakak yang sebenarnya.
Kakak yang selalu nampak keras di luar. Namun sebenarnya di dalam hatinya
begitu rapuh. Ia hanya berusaha untuk menutupi segala retakan kekecewaannya.
Aku pun tak dapat
berbuat apapun. Aku hanya berharap semoga suatu saat nanti kakak dapat
menyadari bahwa apa yang selama ini dilakukan bunda sungguh tulus.
Wajah bunda kini benar-benar nampak
pucat. Tak ada lagi sorot semangat yang terpancar. Lingkaran hitam di bawah
matanya seolah menunjukkan betapa berat perjuangan yang dilakukannya. Ia nampak
begitu lelah. Keadaan ini sangat membuatku cemas. Aku hanya berharap ini tak
akan berpengaruh buruk pada kesehatan bunda.
Kulihat bunda telah benar-benar sangat
lelah. Aku berusaha untuk membantunya. Namun bunda selalu menolak bantuanku.
Beliau ingin menyiapkan pesta kakak dengan tangannya sendiri. Kakak harusnya
dapat melihat sikap bunda yang begitu menyayanginya.
Bunda mencoba menghias bagian atas
rumah. Karena rumah kami lumayan tinggi, maka ia pun menggunakan tangga kecil
sebagai pijakannya. Namun tiba-tiba bunda terlihat pusing. Sepertinya ia
terlalu lelah. Tanpa sadar bunda pun terpeleset dari tangga dan terjatuh di
lantai. Kudapati bunda tergeletak lemah tak berdaya hampir kehilangan
kesadarannya. Dari kepalanya mengalir begitu banyak darah.
Selama beberapa jam bunda tak sadarkan
diri.
***
Aku tak tahu harus berbuat apa dan
bagaimana. Segera kupanggil dokter untuk memeriksa keadaan bunda. Tak
henti-hentinya aku menangis dan berteriak menyalahkan kakak. Emosi ini tak
dapat tertahankan lagi. Aku marah. Ya aku begitu marah pada kakak. Aku tak
tahan lagi melihat sikap kakak seperti ini. Tapi aneh, kali ini kakak tak
sedikitpun membalas perkataanku. Ia tak lagi membentakku seperti biasanya. Kini
ia hanya terdiam. Bibirnya membisu. Tatapannnya hanya tertuju kearah kamar
bunda. Aku tak tahu apa yang kurasakan ini benar . Namun sorot mata saudaraku
satu-satunya ini terlihat menampakkan sebuah kecemasan. Kakak mulai mencemaskan
bunda.
“Ibu anda sepertinya terkena gagar
otak.”
“Gagar otak dok?”, Aku mengulang
pernyataan dokter seolah tak percaya.
“Benar. Sepertinya saat jatuh pingsan
tadi ibu kepala ibu anda terbentur dengan keras. Mungkin dapat saya bilang
bahwa keadaan ibu anda kritis.”,
“Apa dok?”
“Maafkan saya, dik. Namun saya sudah
berusaha semampu saya. Lebih baik sekarang kita pasrahkan semuanya pada Tuhan. Sekarang
ibu anda belum sadarkan diri. Jika nanti ibu dapat segera siuman dan dapat
langsung berbicara, berarti keadaannya membaik. Namun sebaliknya, jika setelah
siuman ibu anda merasa mual dan muntah, mungkin adik harus mulai mengikhlaskan
semua.”, jelas dokter.
Hujan Februari itu mulai menginjak-injak atap rumah kami dan angin pun
juga berhembus dengan kencangnya hingga membuka jendela yang harusnya tertutup
rapat itu. Sungguh keadaan yang begitu ramai. Namun, bunda tetap terbaring
dalam kedamaiannya.
Tetapi tiba-tiba tubuh bunda kejang. Sepertinya ia akan muntah. Aku
begitu takut dan cemas. Bahkan kulihat kakakku juga tak dapat menahan air
matanya.
“Kenapa sih semua jadi begini. Ini hari ulang tahunku. Kenapa semuanya
kacau. Aku tak ingin begini. Aku tak ingin seperti. Aku. . aku. . aku harus
bagaimana?”, kata kakak yang tiba-tiba berteriak. Ia seolah tak kuasa melihat
ini terjadi. Kakak tertunduk lemas tak berdaya. Ia lalu hanya terdiam meratapi
ini semua.
Inilah pertama kalinya kulihat
sikap kakak berubah. Kakak yang acuh, pendiam dan angkuh kini mulai peduli pada
keadaan sekitarnya. Ia mencemaskan bunda. Sesaat aku merasa telah mendapatkan
kakakku kembali.
Semenjak ayah meninggalkan kami, aku merasa tak mengenal lagi siapa
kakakku. Namun sekarang aku telah melihat sosok kakak yang kurindukan itu
kembali. Bahkan, ia pun melakukan sesuatu yang hampir tak pernah dilakukannya
selama beberapa tahun ini. Ia menangis…..
“Tuhan,
ini adalah hari ulang tahunku. Aku tahu begitu banyak yang kuminta pada-Mu
selama ini. Tapi kali ini, jika boleh aku memohon kembali. Aku tak ingin lagi
kue. Aku tak perlu gaun indah. Aku juga tak membutuhkan pesta mewah lagi. Hanya
satu Tuhan, sembuhkanlah dia.”
Bila
maaf dapat merubah segalanya
Akankah
penyesalan dapat menjadi berarti?
Serahkan
saja s’mua pada sang waktu
Dan
biarkan ia yang menjawab bagaimana kisah ini harus berlanjut.
***
Disini, kini aku dan kakak berdiri. . .
RORO
AYU ANJANI PUSPITASARI
Ya, kami hanya terus memandang.
Memandang dengan tatapan kosong sebuah pusara yang menorehkan tinta nama bunda
disana. Tak ada air mata. Tak ada lagi nestapa. Namun sebuah guratan luka tetap
tersimpan rapi dalam hati kami.
Tak terasa telah genap satu tahun
semenjak bunda pergi meninggalkan kami. Sekarang, saatnya untukku memberikan
sebuah kotak pemberian bunda untuk kakak. Kotak itu dititipkan bunda padaku
sesaat sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya untuk diberikan pada
kakak tepat satu tahun setelah kepergiannya ke sisi lain dunia.
Kakak membuka kotak itu dengan perlahan
dan mulai mengeluarkan sebuah surat yang
tersimpan rapi dalam kotak itu lalu membacanya.
Dengan jari-jari ini bunda jahitkan
gaun ini untukmu. Bunda ingin kamu menjadi layaknya seorang putri di hari yang
begitu istimewa ini. Bunda sangat yakin kamu akan terlihat cantik, secantik
hati kamu. Ketahuilah, kamu itu istimewa, sayang.
Bunda sadar, kamu begitu membenci bunda.
Namun bunda tahu bahwa itu rasa itu bukan
murni dari hatimu. Semua hanya karena keadaan. Keadaanlah yang membuatmu takut
menerima sebuah kata takdir. Bunda tahu, kamu hanya tak sanggup untuk terluka.
Lagi.
Sayang, bunda hanya ingin kamu tahu.
Saat terindah yang pernah bunda miliki adalah ketika takdir mempertemukan bunda
dengan ayah yang sekaligus membawa bunda di hadapan dua gadis cantik yang
sangat bunda sayangi. Bertemu dengan kalian adalah sebuah anugrah yang tak
ternilai oleh apapun.
Bunda tak peduli bila setiap hari harus
menjahitkan gaun-gaun ini untukmu. Bunda tak peduli bila setiap hari harus
membanting tulang untuk membuatkanmu sebuah pesta. Bahkan bunda rela jika harus
menukarkan diri ini untuk kamu. Bunda hanya ingin kamu bahagia. Bunda ingin
kamu mendapatkan impian yang selama ini kamu inginkan.
Kalian berdua adalah bidadari dalam
hidup bunda. Meskipun kalian bukanlah dari rahim ini, namun rasa ini sungguh
tulus.
Apapun akan bunda lakukan untuk merebut
hati kamu lagi, sayang. Bunda takkan menyerah. Ini semua karena bunda begitu
dan begitu menyayangimu, setulus hati bunda.
Kakak membaca surat itu degan hati
gamang. Ia pun tak kuasa lagi menahan air matanya. Begitu pula denganku. Ia
memeluk gaun terakhir yang diberikan bunda dengan penuh perasaan. Tak pernah
kusangka, begitu besar kasih bunda pada kami. Selelah apapun bunda, ia tetap
menyempatkan diri untuk menjahitkan gaun untuk kakak, dengan jari-jari
tangannya sendiri. Kini aku tahu apa yang dikerjakan bunda setiap malam. Wanita
itu rela tak tidur untuk memberikan kado terindah untuk kakak, sebuah kado yang
sekaligus menjadi hadiah terakhir kakak, dari bunda. Bunda ingin merebut
hatinya. Beliau tak pernah memikirkan dirinya, yang terpenting baginya hanyalah
kami. Baginya, kami adalah bidadari. Namun bagiku, ialah bidadari yang
sesungguhnya. Seorang malaikat yang dikirim Tuhan bagi kami.
Aku menenangkan kakakku. Dan kami pun
mulai memandang pusara bunda dengan hati yang lebih tenang.
Tuhan memang adil. Mungkin kami
harus kehilangan kedua orang tua yang paling kami sayangi. Namun Tuhan telah
menggantinya dengan seorang malaikat yang sangat tulus mencintai kami
selayaknya orang tua kami sendiri. Bunda sungguh adalah malaikat. Saat bunda
hidup ia banyak mengajarkanku tentang arti sebuah pengorbanan, cinta dan
ketulusan. Dan tak pernah kusangka bahkan saat kepergiannya pun, Bunda
memberikan sebuah arti yang begitu besar bagi kami yang ditinggalkannya,
terutama bagi kakak. Bunda yang telah tiada justru telah memberi semangat bagi
kami yang ditinggalkannya untuk menjadi lebih hidup.
Kini kakak jauh lebih dewasa. Ia semakin
peduli pada orang lain. Ia tak takut lagi harus kehilangan masa remajanya.
Kakak sekarang tak peduli lagi bila masa remajanya berbeda dari yang lain.
Baginya, ia tetaplah sama. Seorang remaja yang punya cita-cita, impian dan
harapan. Tak peduli seberapa besar dan berat rintangan yang akan dihadapinya,
kakak akan berusaha mewujudkan mimpi itu.
Kami
mungkin kini tak lagi punya orang tua, pakaian-pakaian mewah ataupun harta yang
berlebih. Namun kami mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari itu semua di
masa remaja kami. Kedewasaan. Ya, kami banyak belajar tentang arti pengorbanan
dan keikhlasan dari bunda yang membuat kami semakin dewasa dalam menjalani hidup.
Proses pendewasaan itulah yang merupakan harta berharga yang tak bernilai
apapun. Bagi kami, itulah kado terindah yang sesungguhnya bunda telah berikan
di penghujung usianya. Tak nampak, namun begitu terasa nyata di dalam hati
kami.
“Ayo pulang, kak. Udah sore, nih”,
ajakku.
“ Iya, tunggu sebentar.”, pintanya
Kakak mengeluarkan secarik kertas dan
menuliskan sebuah kalimat disana. Ia meletakkan kertas itu di atas pusara bunda
dan kembali mengajakku pulang.
“Ayo pulang.”, ajak kakak
Aku melirik sejenak kertas tersebut dan
kembali tersenyum. Perlahan kami berjalan membelakangi makam bunda. Hari yang
beranjak senja itu seolah telah menjadi saksi kedamaian hati kami saat
itu.
| You’re
always in my heart Takkan lekang kasih ini untukmu hari ini, esok, dan seterusnya, BUNDA. |
0 komentar:
Posting Komentar