Indahnya laut biru, lebatnya
hutan-hutan dan sejuknya angin yang berhembus seolah telah menunjukan betapa
istimewanya Kepulauan Mentawai. Anak-anak tersenyum gembira sambil berlarian.
Kehidupan di Pulau Mentawai amatlah tentram.
Konon pada jaman dahulu kala,
hiduplah sepasang sahabat yang sangat akrab. Mereka adalah Ramba dan Sinta.
Ramba adalah sorang remaja keturunan asli Suku Mentawai yang berkulit hitam.
Dia hidup bersama ibunya dengan serba kekurangan. Namun, ia tidak pernah malu
akan keadaannya. Bahkan, ia selalu bekerja keras untuk memenuhi kehidupannya.
Sedangkan Sinta adalah cucu
seorang Rimata, pemimpin Suku mentawai. Hampir seluruh kebutuhannya dapat
terpenuhi tanpa harus berusaha keras. Namun Sinta tidak pernah sombong, ia
selalu membantu semua orang yang membutuhkannya tanpa terkecuali.
Walaupun latar belakang
keluarga Ramba dan Sinta sangatlah berbeda, namun mereka tidak pernah
mempermasalahkannya. Mereka hidup dengan saling melengkapi satu sama lainnya.
Kehidupan remaja mereka saat itu terlihat sangatlah sempurna.
Pada suatu hari, Ramba dan
Sinta berjanji untuk bermain di hutan. Ketika mereka sampai di hutan, tiba-tiba
mereka mendengar jeritan seseorang.
“Suara siapakah itu Ramba?”,
tanya Sinta.
“Aku tidak tahu. Ayo, kita
cari!”, ajak Ramba.
Mereka pun mencari asal suara
tersebut. Ternyata asal suara itu berasal dari seorang anak laki-laki sebaya
mereka yang sedang merintih kesakitan karena tertimpa sebuah pohon. Ramba dan
Sinta pun segera menolongnya.
“Terima kasih kalian telah mau
menolongku.”, ucap anak laki-laki itu.
“Sama-sama. Oya, siapa nama
kamu? Sepertinya kamu bukan penduduk suku ini. Ada urusan apa kamu disini?”,
tanya Sinta pada anak laki-laki itu.
“Namaku Edo. Beberapa hari
yang lalu, aku berkeliling pulau dengan teman-temanku. Saat akan pulang ke
pulauku, kapal yang aku naiki tenggelam dan aku terpisah dengan teman-temanku.
Lalu, aku pun mencari mereka, tetapi karena aku tidak tahu arah, aku tersesat
disini.”, jelas anak laki-laki yang bernama Edo itu.
“Kalau kamu mau, kamu bisa
tinggal bersamaku untuk sementara waktu sampai ada yang menjemputmu pulang.”,
ajak Sinta.
“Terima kasih banyak”, ujar
Edo lagi.
Lalu mereka bertiga bersama-sama keluar dari hutan
untuk menemui Rimata dan meminta ijin agar Edo dapat ijin untuk tinggal sementara.
“Oh, jadi nama kamu Edo ya? Sepertinya kamu anak
baik, saya ijinkan kamu untuk tinggal disini sementara.”, ijin Rimata.
Edo sangat senang dapat
tinggal di Suku Mentawai. Keramahan penduduknya, hewan-hewan yang khas, dan
adat istiadatnya yang masih sangat alami membuatnya tak ingin meninggalkan Suku
Mentawai. Setiap terdapat masalah, ia selalu dapat membantu menyelesaikan
masalah dengan bijaksana. Semua penduduk sangat menyayanginya, termasuk Rimata.
Tak terasa tiga bulan pun
berlalu, tetapi tidak ada satupun yang datang untuk menjemput Edo. Rimata yang
terlanjur menyayangi Edo, lalu mengangkat Edo sebagai cucunya.
Pada suatu ketika,
terdengarlah kabar bahwa seorang penduduk terserang penyakit yang parah. Telah
menjadi kebiasaan penduduk Suku Rimata, bahwa apabila terdapat penduduk yang
sakit, seluruh penduduk harus mengadakan upacara yang dipimpin oleh dukun atau sikerei sebagai sarana untuk
menyembuhkan penyakit.
Hampir seluruh penduduk pun
mengahadiri upacara yang diadakan sejak malam hingga menjelang pagi itu.
Setelah upacara selesai, penduduk bersiap pulang ke pondok mereka yang disebut Uma. Namun, alangkah terkejutnya mereka
ketika mendengar bahwa panah pusaka milik Rimata telah hilang.
Panah pusaka adalah panah
warisan dari nenek moyang sejak beribu-ribu tahun. Panah pusaka sangat berharga
bagi seluruh penduduk Suku Mentawai. Rimata sangat marah dengan hilangnya panah
pusaka. Baginya, kehilangan panah pusaka sama saja kehilangan harga dirinya
sebagai pemimpin Suku Mentawai.
Rimata sangat yakin bahwa
panah pusaka telah dicuri. Tidak mungkin panah yang selalu dijaga itu ketat
hilang dengan sendirinya. Rimata berjanji akan segera menemukan pelakunya.
“Saya ingin kalian mencari
informasi dari semua penduduk. Sekecil apapun informasi tersebut, apabila kita
satukan pasti akan menjadi bukti yang kuat.”, ujar Rimata saat mengadakan rapat
tertutup bersama beberapa penduduk.
Namun, tiba-tiba Soka, seorang
salah seorang penduduk berdiri dan memberikan kesaksian.
“Se....be...nar....nya....
sa...ya... melihat Ramba..... keluar da.....ri.... hutan sen...di...rian.”,
ujar Soka dengan terbata-bata.
“Apa???”, ujar Rimata yang terlihat sangat terkejut.
Rimata sangat mengenal Ramba.
Walaupun Ramba miskin, Ramba bukanlah anak yang mau mengkhianati sukunya
sendiri demi uang, karena ia sangat mencintai bangsanya. Mendengar hal itu,
Rimata bermaksud menemui Ramba dan bertanya secara baik-baik. Namun, penduduk
yang marah langsung mendahului Rimata dan bertanya pada Ramba dengan kasar.
Ramba sangat paham dengan sikap penduduk, tetapi ia juga tidak dapat menutupi
rasa kecewanya karena penduduk tidak lagi percaya padanya.
“Saya benar-benar tidak
mencuri. Saya memang keluar dari hutan, tetapi itu untuk melihat keadaan ibu
saya yang tidak bisa ikut upacara karena faktor usia. Kalau tidak percaya,
kalian bisa bertanya pada ibu saya ”, jelas Ramba.
“Bohong!!! Ibumu tidak bisa
menjadi saksi, karena beliau pasti akan membela kamu.”, Bentak Soka yang memang
tidak terlalu suka pada Ramba. Akhirnya penduduk pun ricuh. Rimata yang baru
tiba segera menghentikannya.
“Sudah, cukup! Untuk segera
menyelesaikan masalah ini, lebih baik kita adakan Upacara Tipu Sasa.”, tegas
Rimata.
Semua orang yang mendengar
nampak kaget.
Upacara Tipu Sasa adalah
upacara memotong Rotan untuk menentukan kebenaran. Memang, disaat sekarang ini,
upacara ini sangat dibutuhkan, namun yang membuat seluruh penduduk cemas adalah
hasil dari upacara ini. Terdapat kepercayaan, bahwa upacara ini dapat
menentukan hidup dan mati seseorang.
Suku Mentawai adalah suku yang
adil dan bijaksana. Jika pencuri mengembalikan panah sebelum upacara
berlangsung maka penduduk akan memaafkannya. Namun jika tidak, roh yang akan
berbicara.
Akhirnya waktu upacara pun
akan segera dimulai. Namun, langit hari itu nampak mendung, seolah ikut berduka
akan kejadian yang terjadi. Dalam upacara ini, harus terdapat seorang penuntut
dan penengah. Penuntut dalam upacara kali ini adalah Soka, sedangkan
penengahnya adalah orang tertua di Suku Mentawai, yang dianggap adil dan
bijaksana.
Beberapa ritual pun
dijalankan, beberapa saat kemudian, sehelai daun terjatuh dari pohonnya.
Menurut kepercayaan, daun adalah tempat bersemayamnya dewa-dewa yang harus
dihormati. Dengan jatuhnya daun, dinyatakanlah bahwa Ramba bersalah.
Semenjak upacara selesai,
tidak ada lagi yang mau bersahabat dengan Ramba, termasuk Sinta. Sinta kini
lebih dekat dengan Edo. Ramba merasa dirinya tidak lagi berguna, ia pun
memutuskan untuk pergi dari Mentawai, pulau yang dicintainya. Namun, sebelum ia
pergi, ia ingin berpamitan pada Sinta. Karena bagaimanapun juga, Sinta tetaplah
sahabatnya sejak kecil.
“Sin, aku tahu mungkin kamu
tidak lagi peduli padaku.”,ucap Ramba.
Namun, Sinta tetaplah diam. Ia
tak berani menatap Ramba. Ia tak mau dikecewakan lagi.
“Oleh karena itu, Sin. Aku
ingin berpamitan padamu. Aku akan pergi besok. Jaga diri kamu.”, ujar Ramba
sambil berlari meninggalkan Sinta.
Sinta tak kuasa lagi menahan
air matanya. Derasnya hujan hari itu seolah melambangkan betapa pilunya hati
Sinta yang harus kehilangan sahabat sejatinya.
Kini ia sadar bahwa ia tidak
peduli lagi apakah Rimba bersalah atau tidak. Baginya, Rimba tetaplah sahabatnya, sahabat sejatinya.
Sinta tak ingin Rimba pergi.
Ia lalu berusaha mencari bukti-bukti bahwa Ramba tidak bersalah. Matahari yang
tenggelam hari itu, seolah menjadi saksi janji Sinta.
Namun, tak ada satu bukti pun
yang dapat membantu Ramba. Sinta pun mulai menyerah. Tetapi, tiba-tiba ia
melihat sosok Ramba dalam kegelepan. Namun, saat ia mendekatinya, sosok anak
laki-laki itu bukanlah Ramba. Bahkan, laki-laki itu berlari melihat Sinta.
Sinta merasa ini aneh.
“Jangan-jangan......”
Sinta menyesal karena tidak
dapat mengejar laki-laki itu. Ia lalu memutuskan untuk menemui Edo, karena ia
yakin Edo dapat diandalkan. Sinta sangat mempercayai Edo. Namun, sesampainya di
Uma Edo, ia sangat terkejut melihat Edo
memegang panah pusaka bersama anak laki-laki yang tadi ia temui di hutan.
“Edo!!!”, bentak Sinta.
Edo nampak terkejut.
“Ternyata kamu yang mencuri
panah pusaka. Kamu menyuruh laki-laki ini untuk mencuri panah pusaka dan
memfitnah Ramba. Kamu tega!!!”
“Maafkan aku Sin, aku tidak
bermaksud, namun ini semua aku lakukan demi suku kita. Aku merasa hewan-hewan
ciri khas suku kita akan punah. Kita butuh banyak biaya, Sin.”
“Tapi kamu tega merusak
persahabatan kita. Aku tidak bisa memaafkan kamu.”, marah Sinta.
Namun tiba-tiba Ramba datang
bersama Rimata. Sebenarnya, Ramba ingin berpamitan juga pada Edo dan Rimata,
namun ia tidak menyangka harus mendengar perdebatan kedua sahabatnya itu.
“Sudahlah Sin, aku saja memaafkan
Edo, kenapa kamu tidak? Bukankah suku kita selalu melupakan masa lalu yang
suram dan memandang masa depan dengan kebenaran.”, jelas Ramba pada Sinta.
“Edo, kakek tahu niat kamu
baik, namun mencuri panah bukanlah cara yang terbaik. Jika kita bersatu, kakek
yakin kita bisa mengatasi masalah ini, kamu tidak perlu melakukan semua ini”.
Jelas Rimata.
Akhirnya, Sinta dan seluruh
penduduk memaafkan Edo. Soka pun juga telah minta maaf pada Ramba karena telah
salah menuduh.
Karena kejadian itu, seluruh
penduduk pun bersatu mengatasi semua masalah yang ada, sehingga Kepulauan
Mentawai tidak jadi punah bahkan menjadi pulau yang indah, permai, terkenal dan
banyak dikunjungi para wisatawan hingga saat ini, dan sekarang di Suku
Mentawai, dibangunlah patung tiga sekawan yang melambangkan persahabatan Ramba,
Sinta dan Edo. Patung tersebut juga merupakan simbol awal dari kesejahteraan
Suku Mentawai sehingga semua penduduk menjaga patung tersebut.
0 komentar:
Posting Komentar