Sabtu, 19 Oktober 2013

Panah Pusaka Suku Mentawai


Indahnya laut biru, lebatnya hutan-hutan dan sejuknya angin yang berhembus seolah telah menunjukan betapa istimewanya Kepulauan Mentawai. Anak-anak tersenyum gembira sambil berlarian. Kehidupan di Pulau Mentawai amatlah tentram.
Konon pada jaman dahulu kala, hiduplah sepasang sahabat yang sangat akrab. Mereka adalah Ramba dan Sinta. Ramba adalah sorang remaja keturunan asli Suku Mentawai yang berkulit hitam. Dia hidup bersama ibunya dengan serba kekurangan. Namun, ia tidak pernah malu akan keadaannya. Bahkan, ia selalu bekerja keras untuk memenuhi kehidupannya.
Sedangkan Sinta adalah cucu seorang Rimata, pemimpin Suku mentawai. Hampir seluruh kebutuhannya dapat terpenuhi tanpa harus berusaha keras. Namun Sinta tidak pernah sombong, ia selalu membantu semua orang yang membutuhkannya tanpa terkecuali.
Walaupun latar belakang keluarga Ramba dan Sinta sangatlah berbeda, namun mereka tidak pernah mempermasalahkannya. Mereka hidup dengan saling melengkapi satu sama lainnya. Kehidupan remaja mereka saat itu terlihat sangatlah sempurna.
Pada suatu hari, Ramba dan Sinta berjanji untuk bermain di hutan. Ketika mereka sampai di hutan, tiba-tiba mereka mendengar jeritan seseorang.
“Suara siapakah itu Ramba?”, tanya Sinta.
“Aku tidak tahu. Ayo, kita cari!”, ajak Ramba.
Mereka pun mencari asal suara tersebut. Ternyata asal suara itu berasal dari seorang anak laki-laki sebaya mereka yang sedang merintih kesakitan karena tertimpa sebuah pohon. Ramba dan Sinta pun segera menolongnya.
“Terima kasih kalian telah mau menolongku.”, ucap anak laki-laki itu.
“Sama-sama. Oya, siapa nama kamu? Sepertinya kamu bukan penduduk suku ini. Ada urusan apa kamu disini?”, tanya Sinta pada anak laki-laki itu.
“Namaku Edo. Beberapa hari yang lalu, aku berkeliling pulau dengan teman-temanku. Saat akan pulang ke pulauku, kapal yang aku naiki tenggelam dan aku terpisah dengan teman-temanku. Lalu, aku pun mencari mereka, tetapi karena aku tidak tahu arah, aku tersesat disini.”, jelas anak laki-laki yang bernama Edo itu.
“Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal bersamaku untuk sementara waktu sampai ada yang menjemputmu pulang.”, ajak Sinta.
“Terima kasih banyak”, ujar Edo lagi.
Lalu mereka bertiga bersama-sama keluar dari hutan untuk menemui Rimata dan meminta ijin agar Edo dapat ijin untuk tinggal sementara.
“Oh, jadi nama kamu Edo ya? Sepertinya kamu anak baik, saya ijinkan kamu untuk tinggal disini sementara.”, ijin Rimata.
Edo sangat senang dapat tinggal di Suku Mentawai. Keramahan penduduknya, hewan-hewan yang khas, dan adat istiadatnya yang masih sangat alami membuatnya tak ingin meninggalkan Suku Mentawai. Setiap terdapat masalah, ia selalu dapat membantu menyelesaikan masalah dengan bijaksana. Semua penduduk sangat menyayanginya, termasuk Rimata.
Tak terasa tiga bulan pun berlalu, tetapi tidak ada satupun yang datang untuk menjemput Edo. Rimata yang terlanjur menyayangi Edo, lalu mengangkat Edo sebagai cucunya.
Pada suatu ketika, terdengarlah kabar bahwa seorang penduduk terserang penyakit yang parah. Telah menjadi kebiasaan penduduk Suku Rimata, bahwa apabila terdapat penduduk yang sakit, seluruh penduduk harus mengadakan upacara yang dipimpin oleh dukun atau sikerei sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit.
Hampir seluruh penduduk pun mengahadiri upacara yang diadakan sejak malam hingga menjelang pagi itu. Setelah upacara selesai, penduduk bersiap pulang ke pondok mereka yang disebut Uma. Namun, alangkah terkejutnya mereka ketika mendengar bahwa panah pusaka milik Rimata telah hilang.
Panah pusaka adalah panah warisan dari nenek moyang sejak beribu-ribu tahun. Panah pusaka sangat berharga bagi seluruh penduduk Suku Mentawai. Rimata sangat marah dengan hilangnya panah pusaka. Baginya, kehilangan panah pusaka sama saja kehilangan harga dirinya sebagai pemimpin Suku Mentawai.
Rimata sangat yakin bahwa panah pusaka telah dicuri. Tidak mungkin panah yang selalu dijaga itu ketat hilang dengan sendirinya. Rimata berjanji akan segera menemukan pelakunya.
“Saya ingin kalian mencari informasi dari semua penduduk. Sekecil apapun informasi tersebut, apabila kita satukan pasti akan menjadi bukti yang kuat.”, ujar Rimata saat mengadakan rapat tertutup bersama beberapa penduduk.
Namun, tiba-tiba Soka, seorang salah seorang penduduk berdiri dan memberikan kesaksian.
“Se....be...nar....nya.... sa...ya... melihat Ramba..... keluar da.....ri.... hutan sen...di...rian.”, ujar Soka dengan terbata-bata.
“Apa???”,  ujar Rimata yang terlihat sangat terkejut.
Rimata sangat mengenal Ramba. Walaupun Ramba miskin, Ramba bukanlah anak yang mau mengkhianati sukunya sendiri demi uang, karena ia sangat mencintai bangsanya. Mendengar hal itu, Rimata bermaksud menemui Ramba dan bertanya secara baik-baik. Namun, penduduk yang marah langsung mendahului Rimata dan bertanya pada Ramba dengan kasar. Ramba sangat paham dengan sikap penduduk, tetapi ia juga tidak dapat menutupi rasa kecewanya karena penduduk tidak lagi percaya padanya.
“Saya benar-benar tidak mencuri. Saya memang keluar dari hutan, tetapi itu untuk melihat keadaan ibu saya yang tidak bisa ikut upacara karena faktor usia. Kalau tidak percaya, kalian bisa bertanya pada ibu saya ”, jelas Ramba.
“Bohong!!! Ibumu tidak bisa menjadi saksi, karena beliau pasti akan membela kamu.”, Bentak Soka yang memang tidak terlalu suka pada Ramba. Akhirnya penduduk pun ricuh. Rimata yang baru tiba segera menghentikannya.
“Sudah, cukup! Untuk segera menyelesaikan masalah ini, lebih baik kita adakan Upacara Tipu Sasa.”, tegas Rimata.
Semua orang yang mendengar nampak kaget.
Upacara Tipu Sasa adalah upacara memotong Rotan untuk menentukan kebenaran. Memang, disaat sekarang ini, upacara ini sangat dibutuhkan, namun yang membuat seluruh penduduk cemas adalah hasil dari upacara ini. Terdapat kepercayaan, bahwa upacara ini dapat menentukan hidup dan mati seseorang.
Suku Mentawai adalah suku yang adil dan bijaksana. Jika pencuri mengembalikan panah sebelum upacara berlangsung maka penduduk akan memaafkannya. Namun jika tidak, roh yang akan berbicara.
Akhirnya waktu upacara pun akan segera dimulai. Namun, langit hari itu nampak mendung, seolah ikut berduka akan kejadian yang terjadi. Dalam upacara ini, harus terdapat seorang penuntut dan penengah. Penuntut dalam upacara kali ini adalah Soka, sedangkan penengahnya adalah orang tertua di Suku Mentawai, yang dianggap adil dan bijaksana.
Beberapa ritual pun dijalankan, beberapa saat kemudian, sehelai daun terjatuh dari pohonnya. Menurut kepercayaan, daun adalah tempat bersemayamnya dewa-dewa yang harus dihormati. Dengan jatuhnya daun, dinyatakanlah bahwa Ramba bersalah.
Semenjak upacara selesai, tidak ada lagi yang mau bersahabat dengan Ramba, termasuk Sinta. Sinta kini lebih dekat dengan Edo. Ramba merasa dirinya tidak lagi berguna, ia pun memutuskan untuk pergi dari Mentawai, pulau yang dicintainya. Namun, sebelum ia pergi, ia ingin berpamitan pada Sinta. Karena bagaimanapun juga, Sinta tetaplah sahabatnya sejak kecil.
“Sin, aku tahu mungkin kamu tidak lagi peduli padaku.”,ucap Ramba.
Namun, Sinta tetaplah diam. Ia tak berani menatap Ramba. Ia tak mau dikecewakan lagi.
“Oleh karena itu, Sin. Aku ingin berpamitan padamu. Aku akan pergi besok. Jaga diri kamu.”, ujar Ramba sambil berlari meninggalkan Sinta.
Sinta tak kuasa lagi menahan air matanya. Derasnya hujan hari itu seolah melambangkan betapa pilunya hati Sinta yang harus kehilangan sahabat sejatinya.
Kini ia sadar bahwa ia tidak peduli lagi apakah Rimba bersalah atau tidak. Baginya, Rimba tetaplah sahabatnya, sahabat sejatinya.
Sinta tak ingin Rimba pergi. Ia lalu berusaha mencari bukti-bukti bahwa Ramba tidak bersalah. Matahari yang tenggelam hari itu, seolah menjadi saksi janji Sinta.
Namun, tak ada satu bukti pun yang dapat membantu Ramba. Sinta pun mulai menyerah. Tetapi, tiba-tiba ia melihat sosok Ramba dalam kegelepan. Namun, saat ia mendekatinya, sosok anak laki-laki itu bukanlah Ramba. Bahkan, laki-laki itu berlari melihat Sinta. Sinta merasa ini aneh.
“Jangan-jangan......”
Sinta menyesal karena tidak dapat mengejar laki-laki itu. Ia lalu memutuskan untuk menemui Edo, karena ia yakin Edo dapat diandalkan. Sinta sangat mempercayai Edo. Namun, sesampainya di Uma Edo,  ia sangat terkejut melihat Edo memegang panah pusaka bersama anak laki-laki yang tadi ia temui di hutan.
“Edo!!!”, bentak Sinta.
Edo nampak terkejut.
“Ternyata kamu yang mencuri panah pusaka. Kamu menyuruh laki-laki ini untuk mencuri panah pusaka dan memfitnah Ramba. Kamu tega!!!”
“Maafkan aku Sin, aku tidak bermaksud, namun ini semua aku lakukan demi suku kita. Aku merasa hewan-hewan ciri khas suku kita akan punah. Kita butuh banyak biaya, Sin.”
“Tapi kamu tega merusak persahabatan kita. Aku tidak bisa memaafkan kamu.”, marah Sinta.
Namun tiba-tiba Ramba datang bersama Rimata. Sebenarnya, Ramba ingin berpamitan juga pada Edo dan Rimata, namun ia tidak menyangka harus mendengar perdebatan kedua sahabatnya itu.
“Sudahlah Sin, aku saja memaafkan Edo, kenapa kamu tidak? Bukankah suku kita selalu melupakan masa lalu yang suram dan memandang masa depan dengan kebenaran.”, jelas Ramba pada Sinta.
“Edo, kakek tahu niat kamu baik, namun mencuri panah bukanlah cara yang terbaik. Jika kita bersatu, kakek yakin kita bisa mengatasi masalah ini, kamu tidak perlu melakukan semua ini”. Jelas Rimata.
Akhirnya, Sinta dan seluruh penduduk memaafkan Edo. Soka pun juga telah minta maaf pada Ramba karena telah salah menuduh.
Karena kejadian itu, seluruh penduduk pun bersatu mengatasi semua masalah yang ada, sehingga Kepulauan Mentawai tidak jadi punah bahkan menjadi pulau yang indah, permai, terkenal dan banyak dikunjungi para wisatawan hingga saat ini, dan sekarang di Suku Mentawai, dibangunlah patung tiga sekawan yang melambangkan persahabatan Ramba, Sinta dan Edo. Patung tersebut juga merupakan simbol awal dari kesejahteraan Suku Mentawai sehingga semua penduduk menjaga patung tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Follow Your Dream Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template