Impian itu bagaikan sayap yang
membawaku terbang. Aku tak ingin sayapku patah dan menjatuhkan aku begitu saja.
Karena, ketika kita jatuh, itu akan jauh lebih sakit daripada bila kita tidak
terbang sama sekali.
IMPIAN
Ya, semua harapan yang diinginkan untuk menjadi nyata. Sebuah cita
untuk diraih setinggi bintang di angkasa. Atau sebuah bagian dari diri yang
membawa kita pada sebuah kata, perjuangan.
Semua remaja tentu mempunyai impian dalam hidupnya. Mulai dari mimpi-mimpi
saat kita kecil, saat kita mengatakan “buk, aku ingin jadi dokter”, Hingga
mimpi terbesar yang membawa kita untuk bergangti peran dengan orang tua kita
sendiri
Kamis, 24 Juli 2014
Harapan untuk Kebaikan
Tuhan
Hanya pada-Mu aku meminta. Hanya pada-Mu aku memohon.
Bila hati ini resah kepada siapa aku bertumpu?
Bila hati ini gundah, kepada siapa aku mengadu?
Dalam hati ku berdoa, memohon petunjuk dari-Mu.
Tuhan, setiap orang selalu menginginkan yang terbaik dalam
hidupnya.
Dan dalam hidupku, kebahagiaan untuk semua orang yang
kusayangi ialah yang utama.
Namun apa yang harus kulakukan saat aku harus menghadapi
kenyataan bahwa apa yang kulakukan ternyata telah membuat orang-orang yang
kusayangi justru menangis?
Jumat, 21 Februari 2014
Antara Internet dan Dunia Pendidikan
Lagi iseng nih tiba-tiba nemuin karya-karyaku waktu kecil. Jadi pingin publish. Kangen masa-masa itu deh rasanya. Mungkin karya yang aku publish ini nggak terlalu bagus. Yah, namanya juga masi kecil ._.
Tapi aku nggak malu kok. Karena berangkat dari karya-karya seperti itulah jadilah aku sekarang. Aku banyak belajar dari karyaku dulu. Secara nggak sadar, aku pun menemukan jati diriku. So, kalau kalian punya hasil karya juga pada masa lalu, nggak usah malu ya dengan buatan kalian. Karena dari bercermin akan masa lalu, kita dapat banyak belajar menjadi lebih baik, syukur-syukur kita dapat ditemukan oleh pribadi kita yang sebenarnya.
Ok. cukup basa-basinya. Ini karya tulis pertama yang aku ikutin lomba dulu. Semoga suka ya :D
Sepeda Impian Hasan
“Ibu, Hasan boleh minta
sepeda tidak?”, ujar Hasan kepada Ibunya yang nampak sibuk mencuci pakaian yang
bertumpuk banyaknya.
“Sepeda?”, jawab ibu ragu. “Maaf
ya Hasan. Ibu belum punya uang untuk beli sepeda. Untuk makan saja kita masih susah,
apalagi untuk beli sepeda.”, jawab ibu lagi dengan menyesal.
“Oh ya sudah nggak apa-apa
kok, bu. Mungkin lain kali kita bisa dapat rejeki, jadi Hasan bisa beli
sepeda.”, Ujar Hasan yang berusaha menutupi kekecewaannya.
Langganan:
Komentar (Atom)